Renungan Mezbah Keluarga - Selasa, 15 November 2016

Bacaan: Kejadian 18:16-33
Jadi, apa yang bisa kita kerjakan saat ini untuk bersyafaat bagi Indonesia?

1. Menemukan apa pesan Allah bagi kita, bagi gereja dan bagi warga negara Indonesia. Kita percaya bahwa Allah turut bekerja dalam SEGALA SESUATU untuk mendatangkan kebaikan. Karena itu pilihlah respon yang benar, tenang dan percaya bahwa disemua ujian (yg paling berat sekalipun) Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan.

2. Jadilah pribadi yang arif dalam menjalani hidup, sebagaimana FT: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." (Efesus 5:15-17)

3. Serukanlah pertobatan dan mintalah pengampunan.
Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!  Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. (Yesaya 55:6-7)

4. Bersyafaatlah bagi keselamatan seluruh bangsa, sebagai mana Abraham yang menaikkan syafaatnya kepada Allah untuk keselamatan Lot dan keluarganya, bahkan jg untuk seluruh Sodom dan Gomora. Walaupun Allah pada akhirnya berkehandak lain, namun doa Abraham bukanlah doa yang sia sia.

Maka, biarlah kiranya TUHAN melihat kemurnian hati kita dan mendengar setiap doa kita, sebab bangsa ini akan tetap tegak berdiri bila didalamnya ada pilar pilar doa, yang setia bersyafaat bagi keluarga dan bangsanya.

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Senin, 14 November 2016

Bacaan: Kejadian 18:16-33
Bersyafaat, adalah berdoa dihadapan Allah untuk mewakili seseorang, sekelompok orang atau bangsa agar mendapat belas kasihan dan pengampunan dari TUHAN. Nah, itulah yang dilakukan oleh Abraham terhadap Sodom dan Gomora, sebab Allah hendak memusnahkan Sodom dan Gomora oleh karena dosa dosanya. Abraham tidak bersyafaat hanya untuk keselamatan Lot dan keluarganya, ia bersyafaat untuk memohonkan belas kasihan TUHAN agar mengurungkan niatNya menunggangbalikkan Sodom dan Gomora. Abraham tahu persis bahwa TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita (Maz 103:8-12).

Nah, oleh keyakinan tsb, maka Abraham memberanikan diri "menawar" TUHAN :
"Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?"
TUHAN berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka."

Abraham sadar bahwa memang tak ada 50 orang benar disana, maka ia mulai menawar "kebaikan" TUHAN dengan mengurangi jumlah bilangannya dari 40, 30, 20 hingga 10 orang. Dan dia tak berani melanjutkan tawar menawar dgn TUHAN sebab memang tdk dijumpai disana 10 org yang benar...sehingga Sodom dan Gomora tetap ditunggangbalikkan dengan api TUHAN.

Apa yg bisa kita pelajari disini berkait dengan situasi kondisi bangsa kita saat ini?

(bersambung)

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Sabtu, 12 November 2016

Bacaan: I Kor 10:13
Energi kita akhir2 ini banyak habis untuk merawat hati dan emosi kita agar tetap tenang saat menghadapi gelombang masalah atau cobaan. Gelombang2 itu sebagian bisa kita prediksi datangnya, namun tak sedikit pula yang tiba tiba menerjang.

Nah, bagaimana sih merawat hati agar tetap bisa tenang? Sebab dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu (Yes 30:15).

Pertama, BERSYUKUR
Latihlah setiap hari untuk melihat segala sesuatu yg terjadi dalam hidupmu dengan rasa syukur, yang kita anggap baik maupun buruk. Mother Theresa berkata : "some people come in your life as blessings. Some people come in your lifa as lessons."

Kedua, BELAJAR
Anggaplah kesulitan dan masalah sebagai ujian untuk naik level. Tanpa ujian tidak ada peningkatan ilmu dan ketrampilan hidup. FT mengajak kita untuk tetap bahagia apabila kita jatuh dalam berbagai persoalan dan pencobaan (Yak 1:2).

Ketiga, BERDOA/BERSYAFAAT
Ini bukan nasehat klise. Doa adalah makanan bagi roh dan jiwa kita. Dalam kita II Taw 7:13-14 dikatakan: "Bilamana..umatKu, yang atasnya namaKu disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajahKu, lalu berbalik dari jalan jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari Surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." Pegang ayat ini, hafalkan dan lakukan!

Keempat, BANGKIT
Jangan tertunduk apalagi tergeletak dalam menghadapi cobaan. I Kor 10:13 mengatakan "pencobaan pencobaan yang kami alami ialah pencobaan pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu."

Jadi, jika engkau atau bangsa ini sedang menghadapi masalah dan cobaan yang berat menekan, ingat 4 hal tsb yang harus dikerjakan. Menangis boleh, sedih wajar, gentar juga normal..tetapi segeralah bangkit dan belajarlah untuk menjadi pribadi dan umat yg TANGGUH...

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Jumat, 11 November 2016

Bacaan: Efesus 4:26
Akhir2 ini orang mudah sekali marah. Kalau ada orang yg menjelek2kan Ahok maka ada orang yg cepat marah. Atau sebaliknya, kalau ada orang yg membela Ahok, ada jg orang yg marah. Wuah rasanya marah telah menjadi unsur utama guna menyatakan kebenaran.. makin keras dan garang marahnya makin merasa benarlah ia.

Saudara,
Tahukah kita bahwa marah itu punya sisi buruk terhadap kesehatan? Universitas Stanford pernah melakukan suatu percobaan yg menarik. Selang pernafasan dimasukkan ke dalam hidung  seseorang lalu ia diminta untuk bernafas seperti biasa, selang kemudian ditancapkan ke salju.

Jika salju tidak berubah warnanya, itu berarti emosinya sedang stabil, jika salju semakin memutih, itu berarti dia sedang merasa bersalah, jika salju berubah menjadi ungu, itu berarti dia sedang marah. Salju yg berubah menjadi ungu itu, jika disuntikkan ke dalam tubuh seekor tikus putih, dalam waktu 1-2 menit, tikus akan mati. Komposisi salju yang berubah ungu itupun sudah diteliti. Ternyata marah dapat membuat seseorang mudah terjangkit kanker.

Karena itu...
pertimbangkanlah baik baik dampak negatif dari amarah..yang berkepanjangan. Mari kita belajar mengendalikan amarah dengan:

1. Hidup  rileks. Tidak semua urusan harus dijelaskan dan diluruskan. Ada area yg bisa kita jangau ada juga area yg diluar kemampuan kita.
2. Ubahlah apa yg bisa kita ubah dan terimalah dengan legowo apa yang tdk bisa diubah.
3. Ambil waktu 10 detik untuk memikirkan dampaknya, sebelum amarah meledak.
4. Marahlah secukupnya, dengan fokus pada kesalahannya dan bukan pada orangnya.
5. Peganglah nasehat Gal 6:8
"barangsiapa menabur dlm dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yg kekal dari Roh itu."

Nah,
Itu berarti marah boleh, asal terkendali oleh roh, bukan oleh daging, sehingga menghasilkan kebaikan dan perbaikan.

bukan malah penyakit.

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Kamis, 10 November 2016

Bacaan: Roma 8:13-17
Sesungguhnya Yesus tidak sedang kecewa atau marah saat meneriakkan "Eloi Eloi lama sabhaktani"...tetapi Ia hendak menyampaikan pesan kepada kita (sebagai anak Allah) agar tetap tangguh saat menghadapi tekanan, penderitaan, bahkan kematian sekalipun. Kitab Roma 8:15-16 berkata: "Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yg membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Ya... dengan meneriakkan "ya Abba...ya Bapa", kita ditolong Roh Kudus untuk menegaskan ulang siapakah diri kita kepada dunia. Kita adalah anak anak Allah yg hidup menurut pimpinan Roh, bukan takluk oleh manipulasi daging. Sebab jika kita hidup menurut keinginan daging, kita akan mati; tetapi jika kita hidup oleh Roh, kita akan berani mematikan (nafsu) daging dan kita akan hidup (Roma 8:13).

Jadi, janganlah takut oleh tekanan, penderitaan dan kematian. Rasul Paulus berkata: "Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yg ada sekarang, maupun yg akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yg di atas, maupun yg di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yg ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:38-39).

Nah,
Itulah pesan penting bagi kita saat ini.. jangan jadi pengikut Kristus yang manja dan suka berteriak mengatas-namakan Tuhan, padahal tidak sungguh hidup dijalan Tuhan (Matius 7:21)...Tetapi jadilah pengikut Kristus yang tangguh dan berani dengan rendah hati berkata: "Yang kukehendaki ialah MENGENAL Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan PERSEKUTUAN dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi SERUPA dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. (Fil 3:10-11)

Amin.

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Rabu, 9 November 2016

Bacaan: Roma 8:13-17
Apakah Yesus kecewa kepada Sang Bapa saat Dia berteriak: "Eloi Eloi lama sabakhtani..?" Jawabnya TIDAK! Ia tidak kecewa dan merengek menggugat BapaNya. Yesus sadar betul bahwa Ia datang untuk menggenapi apa yg tertulis dalam kitab Yeremia 11:19 dimana akan ada kesepakatan jahat untuk mengorbankan domba jinak dengan berteriak: "marilah kita binasakan pohon ini dengan buah buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang orang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi"
Yesus sudah siap apabila oleh karena seruan pertobatan dan karya pembaharuan yang dikerjakannya, membuat banyak orang marah dan menginginkan kematianNya. Bukankah Ia jg sudah berulang kali mengingatkan murid2Nya, bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua tua, imam imam kepala dan ahli ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari yg ketiga (Mat 16:21).

Nah, kembali pada teriakanNya: "Eloi Eloi lama sabakhtani? Marilah kita lihat kita Roma 8:13-17 sebagai jawabnya. Sebab teks tsb menjelaskan dengan sangat baik makna dari teriakan Yesus sbg pesan dan petunjuk bagi kita saat menghadapi tekanan dan ketidakadilan hidup.
"Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."

(bersambung)

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Selasa, 8 November 2016

Bacaan: Markus 15:33-41
Disinilah peristiwa yg sangat ironis tragis terjadi.
Yesus yg baik, jujur dan bersih...malah diarak dengan tuduhan penistaan agama, menghinakan Taurat dan melecehkan Sabat. Pengadilanpun dipaksakan untuk diselesaikan di jalanan, tanpa pembelaan dan saksi saksi yg meringankan. Para muridNya diusir pergi dan diintimidasi, para pengikutNya pun kocar kacir melarikan diri. Kini Yesus seorang diri. Ia dibuly, diludahi, digebugi dan di salibkan tanpa kesalahan yg terbukti.

Pertanyaan yg masih menggelantung dibenak kita sampai hari ini adalah mengapa semuanya itu bisa terjadi? Dimana Allah SANG BAPA saat itu? Mengapa IA berdiam saja menyaksikan ketidak-adilan terjadi? Tidakkah Allah sanggup menurunkan para malaikatNya? Atau membuat peristiwa yg seperti di Lembah Pujian terjadi kembali, dimana orang2 yg mengepung raja Yosafat saling bunuh sendiri?  Dimanakah Allah yang disebut SANG BAPA itu?

Yesus sendiri diujung sunyi...hingga akhirnya pecah dalam satu tarikan nafas terahir sebelum mati : "Eloi Eloi lama sabakhtani..?" yang artinya Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Sungguh teriakan teologis yang memilukan hati, yg mudah disalah mengerti. Orang orang yang mendengar teriakan ini salah menafsirkannya dengan mengatakan: "Lihat, Ia memanggil Elia." (maka orang mulai menghubungkan Yesus dengan Elia yg sangat di banggakan oleh orang Yahudi, karena berani membongkar penyesatan yg dilakukan oleh Izebel dan 400 imam imam Baal). Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkan kedalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: "Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia."

Nah, apakah arti teriakan Yesus ini? Apakah Ia merasa "menyesal" dengan apa yg terjadi? Apakah Ia "marah" karena Allah berdiam diri? Apakah Ia kecewa karena pengikutNya berbalik arah saat kesulitan terjadi?

(bersambung)

TAD-Ani