Renungan Mezbah Keluarga - Rabu, 7 Desember 2016

Bacaan: Matius 25:31-46

Agama Islam
Gambar Mesias dalam agama Islam dikenal dengan sosok Imam Mahdi, yang berasal dari  keluarga Rasulullah. Dia dicirikan dengan  memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung serta memiliki nama yang sama dengan Rasulullah yakni Muhammad. Ia akan muncul saat bumi dipenuhi ketidak-adilan dan tirani, serta ketika terjadi gempa bumi dahsyat dan terjadi mujizat dimana padang pasir menjadi padang rumput. Ia akan memimpin umat dalam berbagai pertempuran untuk memenuhi bumi dengan keadilan dan persamaan hak. Ia akan memerintah umat manusia selama 7 tahun dan menjadi pemimpin sholat shalat di Mekah dimana Isa alahissalam akan menjadi makmumnya.

Nah, itulah gambaran Messias yang diyakini dalam agama agama Abrahamic. Kapan waktu kedatangannya? Tidak seorangpun tahu..sebab waktu yang masih dirahasiakan. Yang terpenting bagi kita adalah membaca tanda tanda kedatangannya serta menyiapkan diri saat Ia datang sebagai eschatological king. Nah untuk itulah kita menghayati minggu-minggu adven.

Jika dalam minggu adven pertama yang lalu, kita sudah belajar mengenai figur hamba yang menderita dari kitab Yesaya 53, maka di minggu Adven kedua ini, kita akan membaca dan merenungkan kitab Injil Matius pasal 25. Sebab penantian kita akan Mesias itu harus terarah pada Mesias yang akan datang kedua kalinya. Kita tidak lagi menantikan kedatangan Messias sebagai perwujudan dari empirical king dalam kuasa dan otoritas Davidic Kingship. Sebab bagi kekristenan kedatangan Messias itu sudah digenapi lewat kelahiran Yesus dalam peristiwa Natal yang pertama. Kita (sebagai pribadi dan gereja) sekarang sedang bersiap menantikan kedatanganNya yang kedua sebagai eschatological king. Karena itu bacaan Injil Matius 25 menolong kita untuk menyiapkan minilal 3 sikap yang harus dilakukan, yakni : BERJAGA, BERKARYA dan BERBELARASA.

(bersambung)

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Selasa, 6 Desember 2016

Bacaan: Matius 25:31-46

Nah, berikut ini kami paparkan 3 gambaran Mesias dari agama agama "keturunan" Abraham:

Agama Yahudi
Pengharapan akan Mesias di agama Yahudi dimulai dari harapan akan kembalinya kejayaan Davidic Kingship. Kejayaan dan kemakmuran yg dulu pernah dirasakan pada masa pemerintahan Daud. Pengharapan akan munculnya empirical king (raja yg akan memerintah secara nyata di bumi) ini dikemudian hari juga berkembang menjadi pengharapan akan hadirnya eschatological king (raja yang akan datang di akhir zaman).
Bagi orang Yahudi, kedatangan Messias sebagai Raja akan mewujudkan 4 misi utama, yakni:

  1. membangun kuil ketiga (Yeh 37:26-28). 
  2. mengumpulkan seluruh orang orang Yahudi kembali ke tanah Israel (Yes 43:5-6). 
  3. munculnya tokoh yang akan melayani perdamaian dunia dengan mengkhiri era kebencian, penindasan, penderitaan serta penyakit. Bangsa tidak akan mengangkat senjata melawan bangsa dan tidak seorangpun akan mendengar tentang deru perang lagi (Yes 2:4). 
  4. TUHAN akan menjadi raja atas seluruh bangsa (Zak 14:9).

Agama Kristen
Bagi orang Kristen, Mesias yg dijanjikan itu sudah datang dan tergenapkan dalam diri Yesus Kristus. Hal itu dijelaskan dalam kitab Perjanjian Baru, mulai dari pemberitaan malaikat akan lahirnya sang juruselamat yg dinamakan Yesus; pembabtisanNya oleh Yohanes Pembabtis disertai dengan pengurapan oleh Allah Bapa (sehingga Yesus disebut Kristus/Messias yg artinya diurapi); pemuliaanNya (transfigurasi) di gunung Tabor bersama dengan Musa dan Elia; pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Messias Anak Allah yang hidup; hingga kematianNya, kebangkitanNya serta naikNya ke Surga. Namun yang menarik, Yesus ternyata tidak hadir dimasa lalu saja, tetapi sebagai Messias, Yesus juga akan datang kembali untuk menjadi Raja. KedatanganNya yg kedua (maranatha) adalah untuk merealiasasikan kepenuhan Kerajaan Allah.

(bersambung)

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Senin, 5 Desember 2016

Bacaan: Matius 25:31-46

Pengharapan akan datangnya Mesias sesungguhnya merupakan keunikan dari para pemeluk agama Abrahamic (Yahudi, Kristen, Islam). Bahkan bisa dikatakan, kita tidak akan bisa memahami ajaran ketiga agama tsb, jika dilepaskan dari gagasan tentang Mesias (Juru Selamat dunia). Menurut Hans Kohn, Messianisme adalah suatu pokok dalam agama tentang kedatangan "penebus" yg akan mengakhiri tatanan masa sekarang dan menggantikannya dengan tatanan baru yg adil dan bahagia. Filsuf Rusia, Nicolai Berdyaev mengatakan Messianisme itu sebagai "harapan", dan bukan sekedar wujud datangnya Ratu Adil. Harapan ini berupa konsep pemikiran yg dapat mempengaruhi tindakan manusia pada zamannya. Akibatnya setiap zaman akan memunculkan gagasan messianiknya sendiri2. Dan hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Erich Fromm bahwa manusia adalah homo esperans, makhluk yang selalu berpengharapan. Setiap manusia akan mengalami titik kulminasi dari seluruh keinginannya. Tidak semua yg diinginkan manusia akan tercapai, terlebih dalam realitas hidup bersama. Ada kenyataan penderitaan yg diakibatkan oleh sakit penyakit, bencana alam, kemiskinan dan peperangan. Nah dalam konteks seperti itulah harapan akan keselamatan dan Juru Selamat makin menguat. Sayangnya dalam situasi seperti itu, gambaran Messias yg dimunculkan justru menjadi "paradoks messianik", dimana Messias yg seharusnya membawa keselamatan dari Allah, menjadi Messias yg eksklusif bagi dirinya sendiri dan menempatkan bangsa/agama lain sebagai musuhnya.

Baiklah, kita coba kaji dan pelajari gagasan gagasan Messianik tsb dalam 3 agama keturunan Abraham (Yahudi, Kristen dan Islam), Seperti apa ciri ciri yan digambarkan oleh masing masing agama tersebut? Adakah persamaan dan dimana perbedaannya? Kapan dan bilamana kedatangannya? Dan apa refleksi bagi kita saat memasuki minggu Adven yang kedua ini?

(bersambung)

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Sabtu, 3 Desember 2016

Bacaan: I Samuel 17:40-51

Menurut suatu dongeng India kuno, ada seekor tikus yang selalu tertekan karena takut kepada seekor kucing. Seorang tukang sihir merasa kasihan kepadanya lalu mengubahnya menjadi seekor kucing. Tetapi kemudian ia menjadi takut kepada anjing. Maka si tukang sihir ini mengubahnya menjadi anjing. Tetapi ia mulai takut kepada harimau, maka tukang sihir itu mengubahnya menjadi harimau, yang kemudian juga menjadi takut kepada pemburu. Pada saat itu si tukang sihir menyerah. Ia mengubahnya menjadi seekor tikus lagi dan berkata, "Apapun yang saya lakukan itu tidak akan membantumu karena engkau mempunyai hati seekor tikus."

Saudara,
Kekuatan kita yang sesungguhnya ada pada keluasan kapasitas hati, bukan pada kegarangan tampilan fisik. Saat Daud melawan Goliat, secara fisik ada kesenjangan yang sangat jauh berbeda. Tinggi Goliath 3.2 meter, sedangkan Daud masih remaja dengan tinggi badan sekitar 1.5 meter. Senjata Goliath, wah lengkap sekali, ada: ketopong tembaga, baju zirah, pedang, tombak dan lembing. Sementara,  Daud hanya bersenjatakan tongkat, 5 batu licin dan tali pengumban.

Bagaimana Daud bisa memenangkan pertarungan yang jauh tak berimbang ini? Kuncinya ada pada HATI Daud yang lebih besar dari Goliath. Itulah sebabnya Daud bisa berkata: "Engkau mendatangi aku dengan pedang, tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu. Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau kedalam tanganku dan memenggal kepalamu dari tubuhmu... supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN yang menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing." (I Sam 17:45-47).

Sekali lagi, hati yang besar mampu mempersempit jarak kemustahilan menuju kemungkinan. Ingat, bersama dengan TUHAN dan kearifan TUHAN apa yang nampaknya IMPOSSIBLE bisa menjadi I'M POSSIBLE.

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Jumat, 2 Desember 2016

Bacaan: Mazmur 5

Saudaraku,
Hari ini kami tidak akan menyampaikan uraian renungan seperti biasa. Sebagai gantinya kami mengajak saudara untuk berdoa dengan panduan doa Mazmur 5:1-12, demikian:

Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN, indahkanlah keluh kesahku. Perhatikanlah teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku, sebab kepada-Mulah aku berdoa.

TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu. Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu.

Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang melakukan kejahatan. Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu. Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.

TUHAN, tuntunlah aku dalam keadilan-Mu karena seteruku; ratakanlah jalan-Mu di depanku. Sebab perkataan mereka tidak ada yang jujur, batin mereka penuh kebusukan, kerongkongan mereka seperti kubur ternganga, lidah mereka merayu-rayu. Biarlah mereka menanggung kesalahan mereka, ya Allah, biarlah mereka jatuh karena rancangannya sendiri; buanglah mereka karena banyaknya pelanggaran mereka, sebab mereka memberontak terhadap Engkau.

Tetapi semua orang yang berlindung pada-Mu akan bersukacita, mereka akan bersorak-sorai selama-lamanya, karena Engkau menaungi mereka; dan karena Engkau akan bersukaria orang-orang yang mengasihi nama-Mu.

Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai.

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Kamis, 1 Desember 2016

Bacaan: II Tawarikh 20:1-24

Saudaraku,
Pernahkah saudara merasa desperate oleh tekanan yg datang dari segala arah dengan kekuatan yg sangat besar? Kalau hari hari ini engkau mengalaminya, yuk kita mencari wajah TUHAN seperti raja Yosafat. Saat Yosafat terpojok karena dikeroyok oleh bani Moab dan bagi Amon ditambah pula dgn orang2 dari pegunungan Seir, ia dan seluruh bangsanya mencari pertolongan TUHAN.

Alih alih menyalahkan situasi dan mengutuki kelemahan diri, Yosafat mengunjungi rakyatnya dari Bersyeba sampai ke pegunungan Efraim; melakukan konsolidasi dan perombakan dijajaran hakim hakim dan imam imam, dan meminta mereka semua MENCARI wajah TUHAN.

Lihat! Yosafat menyambut peperangannya dengan melakukan perombakan rohani. Yosafat tahu bahwa peperangannya ini adalah PEPERANGAN ROHANI.
Dan...saat hari peperangan tiba,
Yosafat sujud dengan mukanya sampai ke tanah dan diikuti oleh seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem sujud menyembah kepada TUHAN. Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan Korah bangkit berdiri menyanyikan puji pujian bagi TUHAN dengan suara nyaring: "Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama lamanya kasih setiaNYA."

Tiba tiba...
Orang Amon dan Moab dan orang2 dari pegunungan Seir saling bunuh sendiri..sehingga saat orang Yehuda melawati padang gurun itu, yg mereka lihat adalah hamparan bangkai bergelimpangan mati.

Saudaraku,
Pertarungan rohani itu bukanlah saat engkau merasa kuat dan berdiri membela TUHANmu. Bukan! Pertarungan rohani itu justru terjadi saat engkau lemah dan TUHAN yg berdiri berperang untukmu. Karena itu, carilah senantiasa wajahNya, berdoalah untuk mendapati belas kasihanNYA dan serukanlah pujian bahwasanya kasih setiaNYA untuk selama lamanya. Maka niscaya TUHAN akan memulihkan hidupmu, memenangkan gurun dan lembahmu, sehingga engkau akan menyebut derita dan kegentaranmu itu sebagai lembah pujian, sebab disanalah TUHAN memenangkan pertarungan hidupmu!

TAD-Ani

Renungan Mezbah Keluarga - Rabu, 30 November 2016

Bacaan : Lukas 9:46-48

Raja Pyrrhus dari Epirus didatangi oleh seorang kawannya yg bernama Cyneas dan ditanya, "Seandainya raja mengalahkan Roma, apakah yg akan raja kerjakan selanjutnya?"

Pyrrhus menjawab, "Sisilia berdekatan dan mudah untuk direbut."
"Dan apa yang akan raja lakukan setelah Sisilia direbut?"
"Kita akan bergerek ke Afrika dan menduduki Kartago."
"Dan sesudah Kartago?"
"Giliran Yunani akan kita takhlukkan."
"Bolehkan saya bertanya, apakah buah dari kemenangan kemenangan ini?"
"Yah, kita dapat duduk dan bersenang senang," jawab Pyrrhus.

Saudara,
Ambisi kekuasaan dan keunggulan kalau tidak dikendalikan, bisa berbahaya. Mungkin ada yg protes; "lho bukannya unggul dan menjadi yg the very best itu baik?

Saudaraku,
Mari kita belajar dari ajaran Yesus, Sang Guru kita. Waktu para muridNya ribut pingin jadi yg terbesar, sampai timbul pertengkaran, Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di sampingNya, dan berkata; "Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaKu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut DIA yang mengutus Aku. Karena yang terkecil diantara kamu sekalian, dialah yg terbesar."

Dhuaaar!!! Itulah tamparan keras dari Sang Guru bagi para muridNya. Bagaimana engkau bisa berebut pengakuan menjadi yg terbesar, sementara untuk tanggung jawab terhadap yg paling kecil tdk dikerjakan. Ironis bukan?

Nah, jika kita refleksikan pada masa2 kampanye pilkada saat ini..maka kita bisa melihat bahwa banyak sekali janji2 surga. Keberpihakan pada orang miskin tiba2 meninggi, blusukan dan santunan banyak mewarnai berita di TV. Katanya sih nanti kalau menang, akan memberantas kemiskinan. Padahal selama ini, ia sangat kaya tetapi tak ada berita bahwa ia peduli dan berbagi buat orang2 miskin di sekitarnya.

Jadi,
Apa benar mereka itu peduli dan siap berkorban diri? Atau sesungguhnya itu hanyalah strategi seperti Raja Pyrrhus yg ingin berkuasa lebih lagi dan lagi...dan lagi....

TAD-Ani