Renungan Mezbah Keluarga #17D26

Bacaan: Lukas 3:21-22; 4:18

Melanjutkan renungan MK kemarin, hari ini kita membahas Trilogi pertama dari pemuridan yakni PENGURAPAN.

Mencermati apa yang terjadi di Mesir, Suriah dan yang akhir akhir ini tanda tandanya mulai terjadi di Indonesia..seorang rekan mengatakan bahwa itu semua sudah dinubuatkan dalam Alkitab. Anti Chrits akan datang dengan kekekuatan yang bergelombang..banyak gereja akan mendapati aniaya dan orang percaya akan menyangkali imannya... ya semua sudah dinubuatkan..dan pasti akan terjadi.

Ooo..tentu kami tak menyangkali bahwa itu semua sudah di nubuatkan oleh Tuhan Yesus sendiri bahwa banyak orang akan tergoncang imannya dan tercerai berai seperti domba tanpa gembala. Dan bahwa gembala gembala akan dianiaya dan dibunuh. Ya...semuanya itu sudah dinubuatkan.

Tetapi....
Apakah dengan demikian kita berdiam diri saja dalam menantikan kegenapan nubuatan tersebut? Apakah itu yang diinginkan oleh Tuhan. Atau sesungguhnya Tuhan memberitahukan nubuatan tsb untuk mengingatkan kita...mempersiapkan kita dan mengurapi kita agar dapat bertahan dan bahkan berkemenangan jika sesuatu yang buruk itu benar benar terjadi?

PENGURAPAN

Ya, kunci itulah yang diajarkan dan diteladankan oleh Yesus sendiri. Ada dua model pengurapan yang dicontohkan oleh Yesus sendiri, yakni baptisan dan pembasuhan kaki.

Yesus sebelum memasuki panggilan pelayananNya, Ia menerima pengurapan Allah melalui baptisan Yohanes.  Yohanes tentu saja awalnya menolak, sebab bagaimana mungkin ia membaptiskan Anak Allah yang jauh lebih besar dari dirinya, sedang membungkuk dan membuka tali kasutNya saja ia tidak layak (Mark 1:7). Namun semua yg telah menjadi ketetapan Allah harus digenapi, karena itu Yesus harus di baptiskan oleh Yohanes dan menerima pengurapan Roh Kudus dari Allah.

Yesus sebelum memasuki Yerusalem untuk menggenapi seluruh nubuatan tentang penderitaan dan kematianNya (serta kebangkitanNya),  Ia juga diurapi kakinya oleh Maria dengan setengah kati minyak Narwastu murni yang mahal harganya. Itu adalah pengurapan yang sangat dramatis untuk meneguhkan kaki Yesus sebelum melalui jalan derita via dolorosa dan...pengurapan itu juga dilakukan oleh Maria untuk menyiapkan kematian Yesus.

Saudara, jika disimpulkan, pengurapan itu meliputi 3 hal:

  1. Adanya panggilan yang jelas untuk melayani, bukan ikut ikutan atau mencari kenyamanan diri sendiri. Gereja harus mulai menegaskan ulang panggilan pelayanan ini.
  2. Kerendahan hati untuk sedia "tunduk" pada penggenapan rencana Sang BAPA...walau untuk itu kita harus menderita.
  3. Kesiapan untuk memasuki jalan derita dan bahkan kematian...dengan keanggunan cinta dan pengabdian.

Jadi..
Melalui pengurapan, panggilan akan diteguhkan.  Melalui pengurapan, penderitaan akan dihadapi dengan penuh keberanian. Melalui pengurapan, kematian bukanlah ujung maut..melainkan pintu awal bagi kebenaran dan kehidupan yang akan dinyatakan..

"Karena (dengan demikian) kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal." (1Petrus 1:22-23)

(bersambung)

TAD

Renungan Mezbah Keluarga #17D25

Bacaan: Matius 28:16-20

Salah satu panggilan yang terpenting (dan mendesak) bagi Gereja saat ini adalah panggilan KEMURIDAN...yakni menjadi murid sekaligus memuridkan. Sungguh..Gereja di Indonesia akan kocar kacir menghadapi tekanan dan penindasan apabila tidak kembali pada Jalan KEMURIDAN.

Michael Wilkins, profesor Perjanjian Baru menjelaskan pengertian MURID sebagai istilah khusus yang digunakan di kitab kitab Injil yang menunjuk kepada para pengikut Yesus dan merupakan sebutan yang umum bagi mereka yang dalam gereja mula mula disebut orang percaya, orang orang Kristiani, para saudara saudari, kawan seperjalanan atau orang orang suci.. Istilah atau penyebutan murid tersebut setidaknya 230 kali diseluruh Injil dan 28 kali dalam Kisah Para Rasul.

Wow..! Sebutan murid di kitab kitab Injil dan kisah para rasul sampai abad ke empat terasa banget spesifiknya, karakternya dan dampaknya, khususnya pada saat masa masa aniaya.

Seseorang pernah bertanya kepada kami konsep murid seperti apakah yang akan kami ajarkan kepada umat? Kami memahami arah pertanyaannya, yakni ingin mengetahui lebih lanjut model dan modul apakah yang akan kami pakai untuk memuridkan umat?

Menjawab pertanyaan tersebut, kami menjawab menjadikan murid itu pertama tama bukan soal modul dan model, namun soal bagaimana diri kami sendiri diubahkan untuk menjadi murid. Hanya orang yang mau dibentuk menjadi muridlah yang akan bisa memuridkan. Inilah model yang dicontohkan oleh Tuhan Yesus sendiri. DIA bersedia untuk "dimuridkan" agar diperlengkapi dengan kuasa pemuridan.

Jika kita simak dengan teliti kisah kisah yang diuraikan oleh Lukas dengan runut didalam Injil Lukas pasal 3 dan 4, kita akan menemukan patron trilogi (tiga hal yang saling bertaut dan saling bergantung) pemuridan yang luar biasa dahsyatnya, yakni dimulai dengan  pembaptisan oleh Yohanes, pengurapan oleh Roh Kudus dan pencobaan dipadang gurun, serta inti pengajaranNya saat DIA kembali ke kampung halamanNya yakni Nazareth.

Trilogi itulah yang menjadi pola pemuridan ala Sang Guru kita Yesus Kristus untuk kita jalankan juga saat ini, yakni : PENGURAPAN, PENGGENAPAN dan PEMBEBASAN.

Nah bagaimana ketiga hal tersebut diurai-jabarkan? Besok akan kami jabarkan satu persatu...

(bersambung)

TAD

Renungan Mezbah Keluarga #17D24

Bacaan: Yohanes 20: 11-18

Saudara...
Tahukah kita bahwa peristiwa PASKAH atau kebangkitan Yesus..tidak hanya (bisa) kita maknai sebagai Kristus yang bangkit untuk pergi (naik) ke Sorga..tetapi juga (perlu) kita maknai sebagai KRISTUS yang bangkit untuk HADIR menyapa umatNya dalam rupa dan yang tak terduga.  Mari kita dalami kisah di Yohanes 20:11-18. Satu kisah menarik yang menyatakan bahwa Maria dijumpai dan disapa namanya oleh Yesus dengan cara yang sangat personal dan yang tak dikenali sebelumnya.

Maria tahu ada "satu pribadi" didepan (malaikat) dibelakangnya (Yesus)..tetapi Maria tak mengenalinya.. ia menyangka pribadi itu "just anybody". Pribadi-pribadi yang tidak penting atau yang bakalan sibuk dengan urusannya masing masing. Pribadi pribadi yang tidak bakal mengerti dan peduli dengan kesedihan dan kekosongan hatinya. Tetapi saat pribadi itu memanggil namanya "Maria!", maka terbukalah mata Maria bahwa pribadi itu bukan sekedar anybody..pribadi itu adalah Yesus. Ya....hanya Yesuslah yang mengenali namanya dan ia pun mengenali suaraNya... Sama seperti gembala yang baik, yang mengenal nama domba dombanya dan domba dombanya pun mengenal suara gembalanya (Yoh 10:27).

Saudaraku,
Saat engkau "menangis di samping kubur", saat itulah engkau merasakan kekeringan, kebosanan, kehampaan dan penderitaan batin, kesendirian dan kehilangan secara batiniah. Nah..saat itulah engkau tidak dapat lagi melihat kehadiran pribadi lain kecuali dirimu sendiri.. bahkan pribadi Yesus yang hadirpun tak kau sadari. Saat seperti itu engkau membutuhkan keteduhan hati...SILENT and LISTEN. Hanya dalam tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu (Yes 30:15). Ya, hanya dalam keheningan batin itulah seluruh lintasan kegalauan pikiran akan mereda dan engkau akan mulai mendengar dengan jelas namamu disebut.

Sayang sekali saat ini...banyak Agama atau Gereja yang akhir akhir ini sibuk mencari TUHAN dalam kegaduhan...dan melupakan keheningan. Kegaduhan untuk membuktikan dirinya paling benar dan paling besar. Kegaduhan untuk menciptakan segregasi dan kebencian..ketimbang membangun relasi intim dengan TUHAN.. Ini tentu sangatlah memprihatinkan..sebab TUHAN bersabda: "Kegaduhan orang-orang luar Kau diamkan; seperti panas terik ditiadakan oleh naungan awan, demikianlah nyanyian orang-orang yang gagah sombong ditiadakan." (Yes 25:5)

TAD

Renungan Mezbah Keluarga #17D22

Bacaan: II Samuel 19:1-8

Pernahkah saudara membuat satu pilihan, kemudian tak berdaya untuk mengubahnya? Atau memberikan mandat kepada seseorang dengan harapan akan ada perbaikan..tetapi yang terjadi justru keburukan dan kejahatan?

Kisah berikut kiranya bisa menjadi pelajaran yang berharga.

Suatu saat anak Daud yang bernama Absalom bangkit melawan Daud. Daud marah...kemudian Daud mengirim pasukan dibawah pimpinan Yoab dan Abisai untuk mengejar Absalom, dengan pesan: "Perlakukanlah Absalom, anak muda itu dengan lunak karena aku."  Seluruh tentara mendengar, ketika raja memberi perintah itu.

Saat pertempuran terjadi, Absalom kalah dan melarikan diri menunggangi bagal melewati jalinan dahan dahan pohon terbantin....apesnya Absalom tersangkut kepalanya ke dahan dahan pohon. Yoab yang diberitahu ...kemudian mendatangi Absalom, dan mengambil keputusan untuk membunuh Absalom dengan mengabaikan "pesan" Daud. Yoab mengambil tiga lembing dan ditikamkan ke dada Absalom. Sedang Absalom masih hidup, sepuluh bujang pembawa senjata Yoab, mengelilingi Absalom, lalu memukul dan membunuh dia. Mayat Absalom pun dilemparkan kedalam lubang besar dihutan. Sungguh sangat mengerikan.

Kabar kematian Absalom akhirnya sampai juga ke raja Daud. Tentu saja hal itu mengejutkan Daud. Sebab bukankah ia telah berpesan bahwa Absalom cukup dihajar "dengan lunak" dan jangan dibunuh. Tetapi mengapa sekarang ia mendengar kabar kematian Absalom? Bahkan dibunuh secara kejam? Tentu Daud terkejut, marah dan menyesal dengan amat sangat hingga ia berteriak: "Anakku Absalom, anakku Absalom! Ah, kalau aku mati menggantikan engkau, Absalom anakku, anakku!"

Tragis...bukan!!
Berita kemenangan pun tiba tiba berganti menjadi perkabungan. Tentara yang pulang dari pertempuran merasa malu dan sebagian melarikan diri karena takut akan kemarahan Daud.

Saudaraku,
Berhati hatilah dalam memberikan mandat dan amanah kepada orang (kelompok orang) yang jelas jelas tidak bisa dipercaya atau yang punya agenda tersendiri. Sebab alih alih menjalankan mandat dan kewenangan yang Anda berikan...ia malah justru akan memanfaatkan kewenangan yang Anda berikan untuk menghancurkan dan atau mengambil alih semua yang Anda miliki.

Sesungguhnya...

Pemberian mandat kekuasaan kepada orang yang tidak tepat..akan menjadi bencana..yang dampaknya akan Anda sesali seumur hidup..

TAD

Renungan Mezbah Keluarga #17D21

Bacaan: Matius 5:6

Di acara Mata Najwa pernah ditampilkan kisah orang orang kecil yang berjuang mencari kebenaran. Ternyata harga sebuah kebenaran begitu mahal manakala berhadapan dengan uang dan kekuasaan.

Hendra, seorang office boy tiba tiba harus ditangkap dan dipenjara dengan tuduhan korupsi. Bagaimana mungkin dia yang bekerja sebagai office boy disangkakan korupsi videotron? Tanpa bisa membela diri, ia harus dipenjara selama 13 bln. Ia dijadikan tumbal oleh boss nya.

Sri Mulyati yg telah bekerja 2 th sebagai kasir ditempat karaoke, juga bernasib naas dipenjara selama 13 bulan karena tuduhan mempekerjakan anak anak dibawah umur. Ia dikorbankan oleh boss nya yang melenggang bebas. Sri Mulyati harus dipisahkan dengan suami dan anak anaknya dan menanggung hutang hingga 13 jt. Pertanyaannya dimanakah kebenaran dan keadilan itu? Adakah pencari kebenaran bisa dipuaskan?

Saudara,
Harus jujur diakui kebenaran dan keadilan di dunia ini masih sangat sarat dengan kepentingan dan rekayasa kekuasaan. Siapa yang kaya dan punya kuasa dapat membeli dan menentukan kebenaran seturut dengan versinya. Susah mencari kebenaran bagi orang orang kecil. Lalu bagaimana memaknai perkataan Yesus dihadapan orang kecil dan lemah: "Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan."

Menurut kami,
saat Yesus berkata berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, seseungguhnya Ia sedang merujuk pada tawaran akan DIRINYA sendiri sebagai jawabannya, bukan pada tataran konsep yang mengawang awang di langit cekung diatas bumi datar. Yesus berkata:
"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.." (Yoh 14:6).

Jadi,
pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berani menawarkan dirinya sebagai jawaban dan bersedia untuk diuji konsistensi sebagai JALAN, KEBENARAN dan HIDUP. Yesus tidak datang  mengobral pepesan kosong yang melambungkan emosi pendengarNya. Sebab perkataan Yesus telah Ia buktikan dalam seluruh hidup dan karyaNya..track recordNya jelas, yakni keberpihakanNya kepada yang haus dan lapar akan kebenaran.

Nah, sekarang bagaimana dengan kita..bagaimana dengan Gereja? Apakah kita juga memiliki keberpihakan yang sama? Semoga kita dan Gereja mampu menghadirkan diri seperti Yesus yang menghadirkan diriNya sebagai roti hidup dan air kelegaan bagi kaum lemah yang haus dan lapar akan kebenaran.

Yup....
Inilah tantangan konsistensi iman kita sebagai pengikut Kristus...sebagai Gereja...
yang hari hari ini makin dinanti kehadirannya...
di dunia nyata.

TAD

Renungan Mezbah Keluarga #17D20

Bacaan: Yesaya 30:15

Siapapun pernah menghadapi masalah atau kenyataan yang tidak seperti yang diharapkan. Contoh ketika kita berdoa agar kebaikan dan kebenaran yang menang....eeh.. Tuhan malah ijinkan yang sebaliknya.

Lalu muncul pertanyaan "Tuhan mengapa semua ini terjadi?"

Saudara, ijinkan kami memberikan dua kata penting yang perlu diingat saat menghadapi kenyataan yang susah diterima oleh "akal sehat", yakni TENANG dan PERCAYA.

Bacaan MK kita dari Yesaya 30:15 mengatakan: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Ini adalah perkataan Allah sendiri kepada umat Israel yang sedang kecewa, galau, terjepit dan takut akan terjadinya tekanan dan penindasan.

Tuhan ingin agar dalam situasi apapun, kita berespon benar yakni TENANG dan PERCAYA!

Pertama, dalam ketenangan kita diminta untuk mengkoreksi diri dan bertobat. Jangan berespon panik, menyalahkan situasi, orang lain bahkan Tuhan. Ingat kepanikan hanya akan menenggelamkan kita. Sama seperti orang yang tak bisa berenang, tercebur dalam kolam renang. Semakin ia panik, semakin tenggelamlah ia. Orang yang mau menolongnyapun ragu karena takut diseret dan tenggelam bersama dengannya. Maka caranya cuma satu, dia harus tenang atau ditenangkan agar bisa ditolong.

Kedua, dalam percaya, kita diminta untuk kembali kepada jalan Tuhan, kepada cinta mula mula, kepada hidup dalam kebenaran dan kekuatan FirmanNYA. Tuhan Yesus sendiri mengatakan:   "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yoh 15:7)

Saudara,
Ketika semua jalan nampak buntu, depan belakang, kiri kanan sudah tak ada jalan, maka disitu saatnya berlutut dan melihat ke atas.

Tenanglah dan percayakan hidupmu kepada Tuhan. Biarkan Tuhan bertindak dengan kehendakNYA (God's will) caraNYA (God's way), dan waktuNYA (God's time).

Sebab...
Often when we lose hope and think this is the end, GOD smiles from above and says, "Relax, sweetheart, it's just a bend, not the end!
TAD

Renungan Mezbah Keluarga #17D19

Bacaan: Lukas 18:9-17

Akhirnya hiruk pikuk kampanye Pil-Gub DKI putaran kedua usai. Hari ini warga Jakarta menentukan pilihannya..dan seluruh bangsa Indonesia ikut deg deg-an harap harap cemas siapa yang akan menjadi pemenangnya, Ahok-Djarot atau Anies-Sandiaga. Nomor dua atau nomor tiga! Berharap yang menang tidak jumawa, yang kalah tidak memantik huru hara. Lewat semua proses yang penuh ketegangan dan intrik ini, kita kini lega bisa melewatinya dan bangga bisa memetik pelajaran yang berharga. Pelajaran berharga apa yang bisa ambil?

Saudara, melalui bacaan MK hari ini, kami ajak saudara saudara mengkilas kisahkan apa yang terjadi saat ini dengan apa yang ada di kisah Lukas 18:9-17, sbb:

Ada 2 orang yang datang ke Bait Allah, orang yang pertama datang dengan kesombongannya merasa diri benar dan layak..sedangkan orang yang kedua merasa masih jauh dari sempurna...merasa diri kecil dan lemah.

Orang yang pertama tampak bersemangat bahkan ngotot dalam pamer kehebatan diri.. Ia seorang pengolah kata yang handal, yang tak sungkan apalagi malu untuk memuja kehebatan diri sendiri dan  memandang rendah orang lain. Dia lebih suka menyerang kelemahan orang lain secara emosional...

Orang yang kedua, merasa diri kecil dan lemah..untuk berdoapun ia tidak berani menengadah ke langit.. Ia hanya meminta belaskasihan Tuhan, karena ia sadar siapa dirinya..dia dari kelompok marginal, yang sering dipinggirkan karena status sosial politiknya dianggap minoritas.

Siapakah diantara mereka yang dibenarkan dan dibesarkan Tuhan? Orang pertama atau kedua?

Lalu perikop tersebut dilanjutkan dengan kisah tentang penghalangan anak anak datang mendekat kepada  Tuhan. Ada semacam batasan siapa yang boleh dan tidak boleh masuk dalam "lingkaran kekuasaan". Sekali lagi ini soal kelayakan. Ada yang merasa dirinya sudah layak (bahkan sudah membentuk tim transisi) dan memandang orang lain tidak layak karena preferansi keagamaan, kesukuan atau golongan. Ada yang merasa dirinya seperti anak kecil yang jujur dan polos..dia hanya akan mengatakan apa yang memang ia rasakan dan sudah kerjakan.

Nah, siapakah diantara mereka yang  dibenarkan dan dilayakkan untuk datang mendekat Tuhan? Orang "besar" itu atau "anak anak" ?

Hmm....ternyata Tuhan Yesus mengangkat kisah tsb, karena Ia tidak suka dengan  sikap keagamaan yang jumawa atau yang menganggap diri layak dihadapan Tuhan. Karena itu Tuhan Yesus berkata:

"Biarkan anak anak itu datang kepadaKu, jangan kamu menghalang halangi mereka, sebab orang orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."


Saudara, apa pesan dari dua kisah tsb?

Pertama, jangan ngotot untuk mendeklarasikan diri sebagai yang layak dan yang paling benar. Sebab bisa jadi kepada yang merasa diri layak, justru ditolak..sedangkan kepada yg merasa lemah..Tuhan malah memberi amanah.

Kedua, jangan membentengi amanah hanya bagi lingkaran suku atau agama  tertentu saja..seolah amanah kepemimpinan itu  hanya boleh berputar diantara golongan atau agama yang merasa benar dan besar saja.. Padahal rakyat kecillah justru empunya amanah dan kuasa yang sesungguhnya. Jelas Yesus mengatakan bahwa merekalah (rakyat kecil) yang empunya "Kerajaan Allah" yang sesungguhnya. Dan hanya kepada pribadi yang sabar dan telah terbukti mengabdi dan melayani (memanusiakan) yang kecil dan lemah itulah yang layak untuk menjadi pemimpin.

Semoga DUA hal tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kita hari ini untuk menentukan pilihan kita hari ini.

Apakah kita akan memilih pemimpin yang sombong dan jumawa atau kita memilih pemimpin yang jujur dan rendah hatinya?

Apakah kita akan memilih pemimpin yang menghalang halangi yang kecil dan lemah untuk datang kepada kepada Tuhan? Atau yang membawa kemanusiaan mereka untuk dimuliakan Tuhan?

Kalau saya sih akan memilih yang KEDUA...

bagaimana dengan Anda?

TAD-Ani