Bacaan: Yohanes 20: 11-18
Itu sebabnya Maria dijumpai dan disapa namanya oleh Yesus secara pribadi. Maria tahu ada "satu pribadi" didepan (malaikat) dibelakangnya (Yesus)..tetapi Maria tak mengenalinya.. ia menyangka pribadi itu "just anybody". Pribadi-pribadi yg tidak penting atau yg bakalan sibuk dengan urusannya masing2. Pribadi pribadi yg tidak bakal mengerti dan peduli dengan kesedihan dan kekosongan hatinya. Tetapi saat pribadi itu memanggil namanya "Maria!", maka terbukalah mata Maria bahwa pribadi itu bukan sekedar anybody..pribadi itu adalah Yesus. Ya....hanya Yesuslah yg mengenali namanya dan ia pun mengenali suaraNya... Sama seperti gembala yang baik, yang mengenal nama domba dombanya dan domba dombanya pun mengenal suara gembalanya (Yoh 10:27).
Saudaraku,
Saat engkau "manangis disamping kubur", saat itulah engkau merasakan kekeringan, kebosanan, kehampaan dan penderitaan batin, kesendirian dan kehilangan secara batiniah. Nah..saat itulah engkau tidak dapat lagi melihat kehadiran pribadi lain kecuali dirimu sendiri.. bahkan pribadi Yesus yang hadirpun tak kau sadari. Saat seperti itulah engkau membutuhkan keteduhan hati...silent and listen. Hanya dalam tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu (Yes 30:15). Ya, hanya dalam keheningan batin itulah seluruh lintasan kegalauan pikiran akan reda dan engkau akan mendengar dengan jelas namamu disebut.
Sayang sekali saat ini...banyak Agama dan Gereja mencari TUHAN dalam kegaduhan...dan melupakan keheningan. Kegaduhan untuk membuktikan dirinya paling benar dan paling besar. Kegaduhan untuk menciptakan segregasi dan kebencian..ketimbang membangun relasi intim dengan TUHAN.. Ini tentu sangatlah memprihatinkan..sebab TUHAN bersabda: "Kegaduhan orang-orang luar Kaudiamkan; seperti panas terik ditiadakan oleh naungan awan, demikianlah nyanyian orang-orang yang gagah sombong ditiadakan." (Yes 25:5)
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17B24
Bacaan: Yohanes 20: 11-18
Membaca kembali Injil Yohanes 20, kita akan diajak untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhan kita yg paling dalam yakni kebutuhan untuk berjumpa kembali dengan Yesus yg hidup. Begitu para murid mendengar bahwa Yesus tidak ada dalam kuburNya, Petrus dan Yohanes segera berlari melihat kubur Yesus. Sesampai di kubur Yesus, Petrus memperhatikan dgn detil semua yg pernah dikenakan oleh Yesus, seperti kain kafan dan kain peluh yg tergulung rapi, tetapi tak ada Yesus disana. Maka merekapun kembali pulang ke rumah, ketempat dimana mereka biasa berkumpul untuk berkisah tentang Yesus.
Sementara itu tinggal Maria yg masih tetap di dekat kubur dan menangis. Lalu tampaklah 2 malaikat yg berpakaian putih, seorang duduk dekat sebelah kepala dan yg seorang lain disebelah kaki ditempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yg mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. (Yohanes 20:13-16).
Saudara,
Perjumpaan dgn Yesus itu merupakan jantung spiritualitas Kristiani. Kesadaran spiritualitas itu terjadi saat kita mendengar nama kita dipanggil Tuhan mungkin lebih dari pada pribadi (apapun bentuknya), tetapi Tuhan tidak mungkin kurang dari pribadi. Setiap spiritualitas yg menghilangkan kahadiran Tuhan sbg pribadi, akan menghilangkan juga hubungan2 kita dengan Tuhan yg sangat pribadi.
TAD-Ani
Membaca kembali Injil Yohanes 20, kita akan diajak untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhan kita yg paling dalam yakni kebutuhan untuk berjumpa kembali dengan Yesus yg hidup. Begitu para murid mendengar bahwa Yesus tidak ada dalam kuburNya, Petrus dan Yohanes segera berlari melihat kubur Yesus. Sesampai di kubur Yesus, Petrus memperhatikan dgn detil semua yg pernah dikenakan oleh Yesus, seperti kain kafan dan kain peluh yg tergulung rapi, tetapi tak ada Yesus disana. Maka merekapun kembali pulang ke rumah, ketempat dimana mereka biasa berkumpul untuk berkisah tentang Yesus.
Sementara itu tinggal Maria yg masih tetap di dekat kubur dan menangis. Lalu tampaklah 2 malaikat yg berpakaian putih, seorang duduk dekat sebelah kepala dan yg seorang lain disebelah kaki ditempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yg mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. (Yohanes 20:13-16).
Saudara,
Perjumpaan dgn Yesus itu merupakan jantung spiritualitas Kristiani. Kesadaran spiritualitas itu terjadi saat kita mendengar nama kita dipanggil Tuhan mungkin lebih dari pada pribadi (apapun bentuknya), tetapi Tuhan tidak mungkin kurang dari pribadi. Setiap spiritualitas yg menghilangkan kahadiran Tuhan sbg pribadi, akan menghilangkan juga hubungan2 kita dengan Tuhan yg sangat pribadi.
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17B23
Bacaan: Yohanes 20: 11-18
Situasi kekeringan rohani ini bisa digambarkan seperti situasi yg dialami oleh para murid saat Yesus mati dan dikuburkan. Tidak ada lagi pengajaran yg membangkitkan roh, rangkaian mujizat yg mengherankan, sapaan yg menyembuhkan serta arakan kegairahan yg massive. Kini Yesus telah mati dan dikuburkan. Semua murid terdiam dengan lintasan gejolak pertanyaan masing masing. Percakapan menjadi kaku dengan mengulang pokok pertanyaan yg sama...dan tentu dengan jawaban yg intinya sama juga. (Inilah cerminan gereja saat ini..banyak bicara dan mengulang pokok yg sama...tanpa sentuhan perjumpaan spiritual yg nyata). Kehidupan doa bersama dengan Yesus mulai mengering, kegairahan belajar Firman Allah mulai manyusut baik kuantitas maupun kualitasnya. Perjalanan pelayanan dari satu daerah ke daerah lainnya mulai terhenti dalam tembok dan pintu yg tertutup rapat. Yesus telah mati dan dikuburkan. Demikian pula iman para pengikutNya!
Adalah Maria yg keluar dari situasi kosong dan kekeringan spirtual yg melemahkan itu. Pagi pagi benar ketika hari masih gelap (ketika kegalauan masih gelap menyelimuti), Maria bangkit pergi menjumpai Yesus. Tetapi betapa terkejutnya ia saat menjumpai bahwa batu penutup kubur telah diambil dari kubur. Maka ia berlari lari mendapatkan Simon Petrus dan murid murid lainnya, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami TIDAK TAHU dimana IA diletakkan." (Yoh 20:2).
Saudara..
Persis seperti perasaan dan pengertian Maria itulah yg kita (gereja) rasakan saat ini. Pasca kebangkitan Yesus, kita mendapati kubur yg kosong...tak ada Yesus disana. Yesus telah HILANG diambil orang dan kita tidak tahu dimana IA diletakkan. Ya kita dan gereja banyak mengalami kegamangan spiritual karena tidak tahu dimana Yesus diletakkan. Itulah awal dari sumber kekeringan rohani yg kita dan gereja alami..
(bersambung)
TAD-Ani
Situasi kekeringan rohani ini bisa digambarkan seperti situasi yg dialami oleh para murid saat Yesus mati dan dikuburkan. Tidak ada lagi pengajaran yg membangkitkan roh, rangkaian mujizat yg mengherankan, sapaan yg menyembuhkan serta arakan kegairahan yg massive. Kini Yesus telah mati dan dikuburkan. Semua murid terdiam dengan lintasan gejolak pertanyaan masing masing. Percakapan menjadi kaku dengan mengulang pokok pertanyaan yg sama...dan tentu dengan jawaban yg intinya sama juga. (Inilah cerminan gereja saat ini..banyak bicara dan mengulang pokok yg sama...tanpa sentuhan perjumpaan spiritual yg nyata). Kehidupan doa bersama dengan Yesus mulai mengering, kegairahan belajar Firman Allah mulai manyusut baik kuantitas maupun kualitasnya. Perjalanan pelayanan dari satu daerah ke daerah lainnya mulai terhenti dalam tembok dan pintu yg tertutup rapat. Yesus telah mati dan dikuburkan. Demikian pula iman para pengikutNya!
Adalah Maria yg keluar dari situasi kosong dan kekeringan spirtual yg melemahkan itu. Pagi pagi benar ketika hari masih gelap (ketika kegalauan masih gelap menyelimuti), Maria bangkit pergi menjumpai Yesus. Tetapi betapa terkejutnya ia saat menjumpai bahwa batu penutup kubur telah diambil dari kubur. Maka ia berlari lari mendapatkan Simon Petrus dan murid murid lainnya, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami TIDAK TAHU dimana IA diletakkan." (Yoh 20:2).
Saudara..
Persis seperti perasaan dan pengertian Maria itulah yg kita (gereja) rasakan saat ini. Pasca kebangkitan Yesus, kita mendapati kubur yg kosong...tak ada Yesus disana. Yesus telah HILANG diambil orang dan kita tidak tahu dimana IA diletakkan. Ya kita dan gereja banyak mengalami kegamangan spiritual karena tidak tahu dimana Yesus diletakkan. Itulah awal dari sumber kekeringan rohani yg kita dan gereja alami..
(bersambung)
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17B22
Bacaan: Matius 13:3-23
Harus disadari bahwa kekeringan spiritual itu bisa terjadi pada siapa saja, bahkan juga pendeta. Bukan berarti aktifitas pelayanannya tidak ada. Oh ada, dan bahkan banyak. Tetapi dalam kesibukan aktifitas pelayanan yg kita dikerjakan, kita merasakan kehampaan dan kekeringan. Tidak seperti dunia pelayanan yg kita kenal waktu masih muda, saat panggilan pelayanan begitu menggelora dlm cinta mula mula. Doa merupakan kegembiraan dan penyegaran roh tiap pagi. Pembacaan Firman merupakan waktu indah yg membangkitkan inspirasi hidup untuk melayani. Persekutuan dan pelayanan begitu hidup dalam semangat voluntiritas yg tinggi..apapun dan kemanapun dibayar dari kantong sendiri.
Kemana hilangnya seluruh antusiasme, sukacita dan energi yang pernah kita miliki itu? Mengapa ada kekosongan ditengah tengah kesibukan aktifitas pelayanan yg tinggi? Kita masih melayani Allah, mendengar kotbah2 yg menambah pengetahuan teologi kita. Kita juga terlibat dalam tanggungjawab organisasi gereja. Namun mengapa roh kita menjadi datar, inspirasi meredup dan ego pribadi kita mudah terluka?
Disiniah kita bertanya: Bagaimana saya bisa memperoleh pembinaan yg bisa membaharui roh kita agar bisa menyala nyala kembali..seumur hidup..dan bukannya seperti benih yg jatuh ditanah tipis berbatu..Bisakah? Mungkinkah?
Saudaraku..
Tentu kami memahami apa yg saat ini banyak dialami oleh banyak gereja.. banyak dialami oleh para pelayan Tuhan termasuk kami.. Kita semua mengalami suasana yang senyap (vakum) seperti para murid yg bersedih karena ditinggal Yesus mati. Kita meratap sedih seperti Maria yg menangis di luar kubur Yesus. Kita seperti murid murid Yesus yg kembali pada kesibukan aktifitas sehari hari, sambil sesekali berkumpul diruang tertutup untuk mengenang pengalaman kebersamaan dengan Yesus dimasa masa lalu. Yesus kita anggap telah mati..dan perlahan lahan spiritualitas kita juga meredup, kering dan...mati.
(bersambung)
TAD-Ani
Harus disadari bahwa kekeringan spiritual itu bisa terjadi pada siapa saja, bahkan juga pendeta. Bukan berarti aktifitas pelayanannya tidak ada. Oh ada, dan bahkan banyak. Tetapi dalam kesibukan aktifitas pelayanan yg kita dikerjakan, kita merasakan kehampaan dan kekeringan. Tidak seperti dunia pelayanan yg kita kenal waktu masih muda, saat panggilan pelayanan begitu menggelora dlm cinta mula mula. Doa merupakan kegembiraan dan penyegaran roh tiap pagi. Pembacaan Firman merupakan waktu indah yg membangkitkan inspirasi hidup untuk melayani. Persekutuan dan pelayanan begitu hidup dalam semangat voluntiritas yg tinggi..apapun dan kemanapun dibayar dari kantong sendiri.
Kemana hilangnya seluruh antusiasme, sukacita dan energi yang pernah kita miliki itu? Mengapa ada kekosongan ditengah tengah kesibukan aktifitas pelayanan yg tinggi? Kita masih melayani Allah, mendengar kotbah2 yg menambah pengetahuan teologi kita. Kita juga terlibat dalam tanggungjawab organisasi gereja. Namun mengapa roh kita menjadi datar, inspirasi meredup dan ego pribadi kita mudah terluka?
Disiniah kita bertanya: Bagaimana saya bisa memperoleh pembinaan yg bisa membaharui roh kita agar bisa menyala nyala kembali..seumur hidup..dan bukannya seperti benih yg jatuh ditanah tipis berbatu..Bisakah? Mungkinkah?
Saudaraku..
Tentu kami memahami apa yg saat ini banyak dialami oleh banyak gereja.. banyak dialami oleh para pelayan Tuhan termasuk kami.. Kita semua mengalami suasana yang senyap (vakum) seperti para murid yg bersedih karena ditinggal Yesus mati. Kita meratap sedih seperti Maria yg menangis di luar kubur Yesus. Kita seperti murid murid Yesus yg kembali pada kesibukan aktifitas sehari hari, sambil sesekali berkumpul diruang tertutup untuk mengenang pengalaman kebersamaan dengan Yesus dimasa masa lalu. Yesus kita anggap telah mati..dan perlahan lahan spiritualitas kita juga meredup, kering dan...mati.
(bersambung)
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17B21
Bacaan: Matius 13:3-23
c) Pragmatis
Mungkin saat ini kita tidak sedang menghadapi penindasan dan penganiayaan seperti yg dialami oleh orang Kristen abad pertama. Namun dalam situasi adem ayem seperti ini justru banyak orang Kristen yg letoy tak berakar kuat, mudah berubah oleh kepentingan. Orang yg seperti itu disebut pragmatis; yg melihat kebenaran sebagai akibat akibat atau hasil yg bermanfaat secara praktis.
Dalam dunia politik ada adagium: "tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan." Disinilah nilai kejujuran, ketekunan, konsistensi, dan integritas dipertanyakan. Adakah contohnya dalam Alkitab? Oh ada namanya Yudas Iskariot. Ia mengikuti Yesus saat semua orang datang memujaNya, tetapi ketika ia melihat ada koalisi besar antara para imam, orang Farisi dan Saduki, Herodes dan Romawi yg bersiap untuk menangkap Yesus; maka Yudas berbalik menjualNya seharga 30 keping perak.
Adakah contoh pertemanan sejati yg bebas dari kepentingan pragmatis? Ada yakni Rut dan Naomi. Saat kedua anak Naomi, Mahon dan Kiyon meninggal, maka ia bekata kepada kedua menantunya Orpa dan Rut untuk kembali ke kaumnya sebab Naomi akan kembali ke tanah Yehuda. Orpa kembali kekeluarganya, sedang Rut tetap bersikeras mengikuti Naomi. Perhatikan jawaban Rut yg mencerminkan relasi hati yg mengakar dalam: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" (Rut 1:16-17).
Wow!!! Itulah integritas! Itulah contoh relasi yg berakar mendalam, tidak mudah berubah oleh kepentingan pragmatis semata.
TAD-Ani
c) Pragmatis
Mungkin saat ini kita tidak sedang menghadapi penindasan dan penganiayaan seperti yg dialami oleh orang Kristen abad pertama. Namun dalam situasi adem ayem seperti ini justru banyak orang Kristen yg letoy tak berakar kuat, mudah berubah oleh kepentingan. Orang yg seperti itu disebut pragmatis; yg melihat kebenaran sebagai akibat akibat atau hasil yg bermanfaat secara praktis.
Dalam dunia politik ada adagium: "tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan." Disinilah nilai kejujuran, ketekunan, konsistensi, dan integritas dipertanyakan. Adakah contohnya dalam Alkitab? Oh ada namanya Yudas Iskariot. Ia mengikuti Yesus saat semua orang datang memujaNya, tetapi ketika ia melihat ada koalisi besar antara para imam, orang Farisi dan Saduki, Herodes dan Romawi yg bersiap untuk menangkap Yesus; maka Yudas berbalik menjualNya seharga 30 keping perak.
Adakah contoh pertemanan sejati yg bebas dari kepentingan pragmatis? Ada yakni Rut dan Naomi. Saat kedua anak Naomi, Mahon dan Kiyon meninggal, maka ia bekata kepada kedua menantunya Orpa dan Rut untuk kembali ke kaumnya sebab Naomi akan kembali ke tanah Yehuda. Orpa kembali kekeluarganya, sedang Rut tetap bersikeras mengikuti Naomi. Perhatikan jawaban Rut yg mencerminkan relasi hati yg mengakar dalam: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" (Rut 1:16-17).
Wow!!! Itulah integritas! Itulah contoh relasi yg berakar mendalam, tidak mudah berubah oleh kepentingan pragmatis semata.
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17B20
Bacaan: Matius 13:3-23
b) Emosional
Tentulah emosi itu penting, sebab oleh karena emosi itulah kita bisa menikmati kehidupan dan bisa bersapa dengan anugerah TUHAN. Namun apabila spiritualitas iman kita kepada TUHAN dibangun oleh respon2 emosional semata, maka relasi itu tidak akan bertahan lama saat menghadapi penderitaan, penindasan dan penganiayaan. Hari ini berteriak “haleluya” besuk sudah “halelupa”.
Saudara, pengertian emosional memang tidak harus dikontraskan dengan rasional. Sebab emosi dan rasio sama sama diperlukan bagi pendalaman spiritual yang utuh kokoh. Jika emosi dan rasio ini bisa bergabung dengan baik, maka iman kita akan menjadi kuat dan tangguh (endurance).
Kita tahu bahwa Injil Matius ini (diperkirakan) ditulis sekitar tahun 60-65 M, yakni saat dimana para pengikut Kristus mendapatkan tekanan dan penindasan dibawah pemerintahan Kaisar Nero. Penderitaan mereka itu memuncak saat Nero membakar kota Roma dan memfitnah para pengikut Kristus itulah yang membakarnya. Akibatnya sangatlah tragis, mereka diburu, ditangkapi dan dianiaya, serta dibunuh secara keji. Dalam sebuah arena perlombaan, beberapa orang Kristen ditutupi dengan kulit hewan lalu melepas serombongan anjing pemburu, untuk menggigit dan mencabik-cabik mereka hingga mati. Bagi pengikut Kristus yang masih tersisa, Nero memerintahkan anak buahnya supaya mengikat mereka bersama jerami kering untuk dijadikan obor, dan disusun di dalam sebuah taman, dan dibakar pada tengah malam, menjadi hiburan bagi Nero yang lalim.
Itulah konteks jaman dimana Injil Matius dituliskan. Itulah penggambaran benih yang jatuh ditanah berbatu batu, yang tanahnya tipis, sehingga benih Firman tsb tak sempat berakar dalam. Saat kesulitan, penindasan dan penganiayaan datang, ia segera layu dan murtad.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: "bagaimana jika hal itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita bertahan dalam penindasan dan penganiayaan seperti itu?"
TAD-Ani
b) Emosional
Tentulah emosi itu penting, sebab oleh karena emosi itulah kita bisa menikmati kehidupan dan bisa bersapa dengan anugerah TUHAN. Namun apabila spiritualitas iman kita kepada TUHAN dibangun oleh respon2 emosional semata, maka relasi itu tidak akan bertahan lama saat menghadapi penderitaan, penindasan dan penganiayaan. Hari ini berteriak “haleluya” besuk sudah “halelupa”.
Saudara, pengertian emosional memang tidak harus dikontraskan dengan rasional. Sebab emosi dan rasio sama sama diperlukan bagi pendalaman spiritual yang utuh kokoh. Jika emosi dan rasio ini bisa bergabung dengan baik, maka iman kita akan menjadi kuat dan tangguh (endurance).
Kita tahu bahwa Injil Matius ini (diperkirakan) ditulis sekitar tahun 60-65 M, yakni saat dimana para pengikut Kristus mendapatkan tekanan dan penindasan dibawah pemerintahan Kaisar Nero. Penderitaan mereka itu memuncak saat Nero membakar kota Roma dan memfitnah para pengikut Kristus itulah yang membakarnya. Akibatnya sangatlah tragis, mereka diburu, ditangkapi dan dianiaya, serta dibunuh secara keji. Dalam sebuah arena perlombaan, beberapa orang Kristen ditutupi dengan kulit hewan lalu melepas serombongan anjing pemburu, untuk menggigit dan mencabik-cabik mereka hingga mati. Bagi pengikut Kristus yang masih tersisa, Nero memerintahkan anak buahnya supaya mengikat mereka bersama jerami kering untuk dijadikan obor, dan disusun di dalam sebuah taman, dan dibakar pada tengah malam, menjadi hiburan bagi Nero yang lalim.
Itulah konteks jaman dimana Injil Matius dituliskan. Itulah penggambaran benih yang jatuh ditanah berbatu batu, yang tanahnya tipis, sehingga benih Firman tsb tak sempat berakar dalam. Saat kesulitan, penindasan dan penganiayaan datang, ia segera layu dan murtad.
Mari kita bertanya pada diri sendiri: "bagaimana jika hal itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita bertahan dalam penindasan dan penganiayaan seperti itu?"
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17B18
Bacaan: Matius 13:3-23
2. TANAH YANG BERBATU BATU
Minggu ini kita masuk pada jenis tanah yang kedua yakni tanah yang berbatu. Yesus berkata: “Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.” (ayat 5 dan 6). Lalu Yesus mengartikan perumpaan tsb demikian: “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.” (ayat 20 dan 21)
Apa sih yang sesunguhnya dimaksud dengan tanah yang berbatu batu? Paling tidak ada 3 pengertian mengenai tanah yang berbatu batu ini, yakni:
a) Dangkal
Orang yang dangkal lahan hatinya akan lebih menyukai hal hal yang bersifat kulit, instant dan fashionable saja. Padahal kita tahu spiritualitas itu memerlukan relasi hati, batin dan akal budi yang makin mendalam dari hari kesehari.
Saudaraku, beriman itu bukan sekedar tahu dipikiran dan mengaku diomongan atau status yang sewaktu waktu bisa dikenakan dan ditanggalkan. Bukan! Bukan seperti itu. Yesus dengan tegas berkata: "bukan setiap orang yang berseru seru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerjan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga." (Mat 7:21).... "celakalah hai kamu orang orang munafik, sebab kau seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, disebelah luar kamu tampaknya benar dimata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. (Mat 23:27-28)
(bersambung)
TAD-Ani
2. TANAH YANG BERBATU BATU
Minggu ini kita masuk pada jenis tanah yang kedua yakni tanah yang berbatu. Yesus berkata: “Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.” (ayat 5 dan 6). Lalu Yesus mengartikan perumpaan tsb demikian: “Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.” (ayat 20 dan 21)
Apa sih yang sesunguhnya dimaksud dengan tanah yang berbatu batu? Paling tidak ada 3 pengertian mengenai tanah yang berbatu batu ini, yakni:
a) Dangkal
Orang yang dangkal lahan hatinya akan lebih menyukai hal hal yang bersifat kulit, instant dan fashionable saja. Padahal kita tahu spiritualitas itu memerlukan relasi hati, batin dan akal budi yang makin mendalam dari hari kesehari.
Saudaraku, beriman itu bukan sekedar tahu dipikiran dan mengaku diomongan atau status yang sewaktu waktu bisa dikenakan dan ditanggalkan. Bukan! Bukan seperti itu. Yesus dengan tegas berkata: "bukan setiap orang yang berseru seru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk kedalam Kerjan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga." (Mat 7:21).... "celakalah hai kamu orang orang munafik, sebab kau seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, disebelah luar kamu tampaknya benar dimata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. (Mat 23:27-28)
(bersambung)
TAD-Ani
Subscribe to:
Posts (Atom)