Bacaan: Matius 5:1-12
Tahukah saudara bahwa kemurahan adalah karunia rohani yg sangat penting untuk hidup bersama dalam komunitas. Oleh sebab itu harus dilatih dan dipraktekkan. Rasul Paulus mengatakan: "jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita." Roma 12:8. Jadi karunia kemurahan itu sama bobotnya dengan karunia menasehati dan memimpin. Apa artinya? Artinya itu harus diajarkan dan dipraktekkan mulai dari para pemimpin jemaat. Sangat tidak elok apabila pemimpin umat mengharapkan pemberian/kemurahan dari umatnya sementara ia tidak memiliki hati untuk berbagi. Saya bangga sekali dengan istri saat kemana saja kami pergi, ia hampir selalu memikirkan buah tangan bagi orang lain...entahkah itu berupa makanan kecil atau hal hal yg tidak bernilai besar. Ia juga secara didisiplin mengumpulkan koin ribuan, untuk kemudian tiap hari diletakkan dua koin "disembarang" tempat agar ditemukan orang lain. Siapa tahu hal itu akan berguna bagi orang yg menemukan. Memang jumahnya tidak besar, tetapi itu pertama tama untuk melatih diri sendiri dalam disiplin rohani karunia kemurahan. FT berkata: "Siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita."
Fase keenam, Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Sungguh, hati kita menjadi makin jernih dan suci, saat kita telah mengalami pertumbuhan spiritualitas dari fase pertama hingga fase kelima. Memasuki fase keenam, kita akan bisa merasakan hati yang lemah lembut tanpa beban, kepekaan telinga untuk mendengar suaraNya dan mata untuk melihat kehadiranNya di sekitar kita. Sekalipun ketika IA hadir dalam wujud "tidak disangka sangka" sebagaimana yg dikisahkan dalam Matius 25:31-46.
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C14
Bacaan: Matius 5:1-12
Fase kelima, Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Yesus sendiri berkata: "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yoh 15:7-8). Jadi buah (hasil) dari haus dan lapar akan kebenaran Firman (dan tinggal didalam Firman) adalah KEMURAHAN. Kita akan menjadi pribadi yang murah hati, mudah bersimpati, berempati dan senang untuk berbagi. Ia tidak takut akan kekurangan sebab hatinya tetap penuh kepercayaan kepada TUHAN. Pemazmur menggambarkannya dengan apik:
Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. (Mazmur 112:9). Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. (Amsal 19:17).
Saudara, kemurahan ini tidak hanya ha berbagi harta benda kepada orang lain yang membutuhkan..tetapi juga kemurahan untuk berbagi Injil keselamatan. Ada satu peristiwa menarik yang dilakukan oleh Tee Siem Tat, salah satu tokoh pendiri Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) di kota kudus tahun 1920 an. Saat dia mengalami lawatan Tuhan dan bertobat...maka dia membeli burung2 dalam sangkar yang dijual oleh pedagang burung. Setelah ia beli maka ia lepaskan semua burung itu ke udara dengan berkata: "dengan bebas aku menerima Injil, dengan bebas pula aku mengabarkannya." Tindakan simbolis membebaskan burung2 dalam sangkar ke alam bebas menunjukkan bahwa Injil telah membebaskannya dan Injil itu pula yang akan dibawanya untuk membebaskan orang orang lain yang masih terkurung dalam kehidupan dosa. Nah, itu adalah bentuk kongkret dari tindakan yang disebut kemurahan (band. Roma 11:30-33)
TAD-Ani
Fase kelima, Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Yesus sendiri berkata: "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yoh 15:7-8). Jadi buah (hasil) dari haus dan lapar akan kebenaran Firman (dan tinggal didalam Firman) adalah KEMURAHAN. Kita akan menjadi pribadi yang murah hati, mudah bersimpati, berempati dan senang untuk berbagi. Ia tidak takut akan kekurangan sebab hatinya tetap penuh kepercayaan kepada TUHAN. Pemazmur menggambarkannya dengan apik:
Ia membagi-bagikan, ia memberikan kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduknya meninggi dalam kemuliaan. (Mazmur 112:9). Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. (Amsal 19:17).
Saudara, kemurahan ini tidak hanya ha berbagi harta benda kepada orang lain yang membutuhkan..tetapi juga kemurahan untuk berbagi Injil keselamatan. Ada satu peristiwa menarik yang dilakukan oleh Tee Siem Tat, salah satu tokoh pendiri Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) di kota kudus tahun 1920 an. Saat dia mengalami lawatan Tuhan dan bertobat...maka dia membeli burung2 dalam sangkar yang dijual oleh pedagang burung. Setelah ia beli maka ia lepaskan semua burung itu ke udara dengan berkata: "dengan bebas aku menerima Injil, dengan bebas pula aku mengabarkannya." Tindakan simbolis membebaskan burung2 dalam sangkar ke alam bebas menunjukkan bahwa Injil telah membebaskannya dan Injil itu pula yang akan dibawanya untuk membebaskan orang orang lain yang masih terkurung dalam kehidupan dosa. Nah, itu adalah bentuk kongkret dari tindakan yang disebut kemurahan (band. Roma 11:30-33)
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C13
Bacaan: Matius 5:1-12
Fase keempat, Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Saat hati kita sudah dibentuk dalam kelembutlembutan, maka kita akan menjadi sangat haus dan lapar akan kebenaran Firman TUHAN. Sungguh menarik, istilah yg dipakai oleh Tuhan Yesus adalah haus dan lapar. Hal ini mengingatkan akan kisah Yesus yg lapar dan haus setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Mat 4:2-4).
Kisah lain, adalah saat Yesus bertemu dengan perempuan Samaria di sumur Yakub. Percakapan tsb berujung pada pernyataan Yesus: "barangsiapa minum air ini (dari sumur), ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yoh 4:13).
Setelah itu datanglah murid-muridNya dari kota membawa makanan dan berkata: "Rabi, makanlah." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:31-34)
Wow... sungguh ini tahapan spiritualitas yg luar biasa. Saat kita memasuki fase ini, maka kehausan dan kelaparan sudah berpindah dari materi ke rohani. Apakah makan dan minum tidak penting lagi? Oh penting! Tetapi ada yg jauh lebih penting yg mendatangkan kepuasan yg mendalam dan kekal yakni saat bersekutu menikmati Firman dan melakukan kehendak Firman. Saat itulah roh kita akan dipuaskan, dan dari dalamnya akan mengalir aliran sungai kehidupan yg tak pernah kering.
TAD-Ani
Fase keempat, Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Saat hati kita sudah dibentuk dalam kelembutlembutan, maka kita akan menjadi sangat haus dan lapar akan kebenaran Firman TUHAN. Sungguh menarik, istilah yg dipakai oleh Tuhan Yesus adalah haus dan lapar. Hal ini mengingatkan akan kisah Yesus yg lapar dan haus setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Mat 4:2-4).
Kisah lain, adalah saat Yesus bertemu dengan perempuan Samaria di sumur Yakub. Percakapan tsb berujung pada pernyataan Yesus: "barangsiapa minum air ini (dari sumur), ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yoh 4:13).
Setelah itu datanglah murid-muridNya dari kota membawa makanan dan berkata: "Rabi, makanlah." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal." Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh 4:31-34)
Wow... sungguh ini tahapan spiritualitas yg luar biasa. Saat kita memasuki fase ini, maka kehausan dan kelaparan sudah berpindah dari materi ke rohani. Apakah makan dan minum tidak penting lagi? Oh penting! Tetapi ada yg jauh lebih penting yg mendatangkan kepuasan yg mendalam dan kekal yakni saat bersekutu menikmati Firman dan melakukan kehendak Firman. Saat itulah roh kita akan dipuaskan, dan dari dalamnya akan mengalir aliran sungai kehidupan yg tak pernah kering.
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C11
Bacaan: Matius 5:1-12
Fase ketiga, Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Ketika kita sudah dipulihkan oleh TUHAN melaui fase pertama dan kedua, maka kita akan memasuki fase lemah lembut. Kita memiliki kepekaan dan kecerdasan bukan hanya intrapersonal (dimana kita mengenali siapa diri kita) namun juga kepekaan terhadap tipu daya dosa. Ini senada dengan apa yg dituliskan dalam Kolose 3:12; "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran."
Saudara,
Lemah lembut yg dalam bahasa inggrisnya dipakai istilah "meek" itu sering disalah artikan dengan "weak" (kelemahan), sehingga dianggap sebagai pribadi yg gemulai melambai, mudah dipengaruhi, tidak bernyali, bersuara pelan, tidak bersemangat dan sejenisnya. Lemah lembut bukan seperti itu! W. E. Vine, seorang ahli bahasa Yunani, mengatakan bahwa kelemahlembutan dalam Alkitab merupakan suatu sikap di hadapan Allah “ketika kita menerima perlakuan-Nya terhadap kita sebagai kebaikan, dan kita tidak menolak atau melawannya”. Selanjutnya, Vine berkata bahwa “kelemahlembutan yang diperlihatkan Tuhan dan diberikan kepada orang percaya ini adalah hasil dari KUASA. Lihat Yesus itu ‘lemah lembut’ karena Dia memiliki sumber daya tak terbatas dari Allah yang dapat dipergunakan-Nya.”
Jadi lemah lembut bukannya kelemahan yang miskin daya dan kuasa. Kelemahlembutan justru kemampuan yang luar biasa (yang digerakkan oleh hati yang takut akan TUHAN pluss kendali emosi yang tinggi) guna mengelola sumber kuasa dan kehidupan yg dianugerahkan TUHAN untuk mengelola kehidupan di muka bumi ini. Wow! sungguh suatu power sekaligus tanggungjawab yang besar. Itulah sebabnya Yesus berkata: "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi"
TAD-Ani
Fase ketiga, Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Ketika kita sudah dipulihkan oleh TUHAN melaui fase pertama dan kedua, maka kita akan memasuki fase lemah lembut. Kita memiliki kepekaan dan kecerdasan bukan hanya intrapersonal (dimana kita mengenali siapa diri kita) namun juga kepekaan terhadap tipu daya dosa. Ini senada dengan apa yg dituliskan dalam Kolose 3:12; "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran."
Saudara,
Lemah lembut yg dalam bahasa inggrisnya dipakai istilah "meek" itu sering disalah artikan dengan "weak" (kelemahan), sehingga dianggap sebagai pribadi yg gemulai melambai, mudah dipengaruhi, tidak bernyali, bersuara pelan, tidak bersemangat dan sejenisnya. Lemah lembut bukan seperti itu! W. E. Vine, seorang ahli bahasa Yunani, mengatakan bahwa kelemahlembutan dalam Alkitab merupakan suatu sikap di hadapan Allah “ketika kita menerima perlakuan-Nya terhadap kita sebagai kebaikan, dan kita tidak menolak atau melawannya”. Selanjutnya, Vine berkata bahwa “kelemahlembutan yang diperlihatkan Tuhan dan diberikan kepada orang percaya ini adalah hasil dari KUASA. Lihat Yesus itu ‘lemah lembut’ karena Dia memiliki sumber daya tak terbatas dari Allah yang dapat dipergunakan-Nya.”
Jadi lemah lembut bukannya kelemahan yang miskin daya dan kuasa. Kelemahlembutan justru kemampuan yang luar biasa (yang digerakkan oleh hati yang takut akan TUHAN pluss kendali emosi yang tinggi) guna mengelola sumber kuasa dan kehidupan yg dianugerahkan TUHAN untuk mengelola kehidupan di muka bumi ini. Wow! sungguh suatu power sekaligus tanggungjawab yang besar. Itulah sebabnya Yesus berkata: "Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi"
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C10
Bacaan: Matius 5:1-12
Fase kedua, Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Pada fase kedua ini, kita akan disadarkan akan semua dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Kita menangis, bertobat dan mengoyakkan jubah untuk bermandi dalam debu. Inilah yang dilakukan oleh umat Israel saat bertobat dan meminta belas kasihan. Ingatkah kita akan dosa yang dilakukan oleh Akhan sehingga membuat bangsa Israel terpukul kalah di Ai? Maka inilah yang dilakukan oleh Yosua..ia mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya. (Yosua 7:6).
Sungguh, pertobatan dan penyesalan akan dosa membuat kita berduka cita dan memohon belas kasihan dan kemurahan TUHAN. Debu melambangkan kehinaan dan kematian. Dengan menaburkan mengoyakkan jubah dan bertaburkan debu, kita menyatakan pertobatan atau kematian rohani kita dihadapan TUHAN, agar DIA dalam kemurahanNya bersedia untuk membentuk ulang kita sebagai manusia baru dan menghembuskan RohNya dalam diri kita. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi bernama Nikodemus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang diahirkan dari daging (debu) adalah daging (debu) dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh" (Yoh 3:5-6).
Jadi, sekarang makin jelaslah bagi kita akan pernyataan Yesus yang mengatakan: Berbahagialah orang yang berdukacita (bertobat dari dosa dosanya), karena mereka akan dihibur (mendapatkan penghiburan) dari Roh Kudus. Yesus berkata: "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yoh 14:26).
Wow..! Amazing Grace
TAD-Ani
Fase kedua, Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Pada fase kedua ini, kita akan disadarkan akan semua dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Kita menangis, bertobat dan mengoyakkan jubah untuk bermandi dalam debu. Inilah yang dilakukan oleh umat Israel saat bertobat dan meminta belas kasihan. Ingatkah kita akan dosa yang dilakukan oleh Akhan sehingga membuat bangsa Israel terpukul kalah di Ai? Maka inilah yang dilakukan oleh Yosua..ia mengoyakkan jubahnya dan sujudlah ia dengan mukanya sampai ke tanah di depan tabut TUHAN hingga petang, bersama dengan para tua-tua orang Israel, sambil menaburkan debu di atas kepalanya. (Yosua 7:6).
Sungguh, pertobatan dan penyesalan akan dosa membuat kita berduka cita dan memohon belas kasihan dan kemurahan TUHAN. Debu melambangkan kehinaan dan kematian. Dengan menaburkan mengoyakkan jubah dan bertaburkan debu, kita menyatakan pertobatan atau kematian rohani kita dihadapan TUHAN, agar DIA dalam kemurahanNya bersedia untuk membentuk ulang kita sebagai manusia baru dan menghembuskan RohNya dalam diri kita. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi bernama Nikodemus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang diahirkan dari daging (debu) adalah daging (debu) dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh" (Yoh 3:5-6).
Jadi, sekarang makin jelaslah bagi kita akan pernyataan Yesus yang mengatakan: Berbahagialah orang yang berdukacita (bertobat dari dosa dosanya), karena mereka akan dihibur (mendapatkan penghiburan) dari Roh Kudus. Yesus berkata: "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu." (Yoh 14:26).
Wow..! Amazing Grace
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C09
Bacaan: Matius 5:1-12
Memang Kerajaan Allah itu berbanding terbalik dengan kerajaan dunia. Dunia mengejar kekayaan, kekuatan dan kejayaan sebagai nilai utamanya, sementara Kerajaan Allah menekankan nilai kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Kerajaan dunia menginginkan richer, biger, higher sebagai goalnya...sementara Kerajaan Allah menginginkan kenosis (mengosongkan diri) dan melayani sebagai goalnya (Fil 2:7). Siapa yang mau menjadi terbesar haruslah merendahkan diri (miskin dalam roh) untuk mau melayani orang lain (Mat 18:4, 23:11 dan Luk 22:26). Inilah yang oleh Donald B. Kraybill disebut sebagai "Upside Down Kingdom" (Kerajaan Allah yang sungsang). Yesus hadir di dunia untuk memberitakan Injil (kabar sukacita) yang upside down dengan pemahaman dunia. Contoh: ketika dunia menyatakan sesamaku adalah yang selevel denganku atau yg punya kepentingan yg sama denganku..maka Yesus mengajarkan sesama manusia adalah semua orang tanpa mengenal batasan apapun. Ketika dunia mengangkat raja sedemikian tingginya (bahkan sebagai keturunan dewa), maka Yesus Sang Raja justru rela mengosongkan diri untuk melayani manusia yang berdoa. Yesus turun dari Sorga menjadi manusia untuk menyatakan langsung belas kasihNya kepada mereka yang menderita pada garis2 tepi masyarakat.
Jadi saat Yesus berkata "berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah", Yesus sedang mengajak pendengarNya (dan kita) untuk berani memasuki pengosongan hidup dan memasuki Kerajaan Allah yang terbalik itu. Disanalah kita akan merasakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan tanpa Allah kita tidak dapat berbuat apa apa.
Sebelum fase ini dilalui, maka kita akan sulit untuk memasuki Kerajaan Allah, sebab yang dipikirkan dan dikejar setiap hari adalah kekayaan dan menjadi yang terutama dalam kerajaan dunia. Jadi Kerajaan Allah memang berbanding terbalik dengan kerajaan dunia.
TAD-Ani
Memang Kerajaan Allah itu berbanding terbalik dengan kerajaan dunia. Dunia mengejar kekayaan, kekuatan dan kejayaan sebagai nilai utamanya, sementara Kerajaan Allah menekankan nilai kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Kerajaan dunia menginginkan richer, biger, higher sebagai goalnya...sementara Kerajaan Allah menginginkan kenosis (mengosongkan diri) dan melayani sebagai goalnya (Fil 2:7). Siapa yang mau menjadi terbesar haruslah merendahkan diri (miskin dalam roh) untuk mau melayani orang lain (Mat 18:4, 23:11 dan Luk 22:26). Inilah yang oleh Donald B. Kraybill disebut sebagai "Upside Down Kingdom" (Kerajaan Allah yang sungsang). Yesus hadir di dunia untuk memberitakan Injil (kabar sukacita) yang upside down dengan pemahaman dunia. Contoh: ketika dunia menyatakan sesamaku adalah yang selevel denganku atau yg punya kepentingan yg sama denganku..maka Yesus mengajarkan sesama manusia adalah semua orang tanpa mengenal batasan apapun. Ketika dunia mengangkat raja sedemikian tingginya (bahkan sebagai keturunan dewa), maka Yesus Sang Raja justru rela mengosongkan diri untuk melayani manusia yang berdoa. Yesus turun dari Sorga menjadi manusia untuk menyatakan langsung belas kasihNya kepada mereka yang menderita pada garis2 tepi masyarakat.
Jadi saat Yesus berkata "berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah", Yesus sedang mengajak pendengarNya (dan kita) untuk berani memasuki pengosongan hidup dan memasuki Kerajaan Allah yang terbalik itu. Disanalah kita akan merasakan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan tanpa Allah kita tidak dapat berbuat apa apa.
Sebelum fase ini dilalui, maka kita akan sulit untuk memasuki Kerajaan Allah, sebab yang dipikirkan dan dikejar setiap hari adalah kekayaan dan menjadi yang terutama dalam kerajaan dunia. Jadi Kerajaan Allah memang berbanding terbalik dengan kerajaan dunia.
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C08
Bacaan: Matius 5:1-12
Fase Pertama, Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Tingkat spiritualitas yang paling dasar untuk bisa masuk dalam Kerjaan Allah adalah keberanian untuk miskin dihadapan Allah. Apa artinya? Alkitab Sheabear menterjemahkan "yang miskin" ini dengan pengertian "yang rendah hatinya". King James Version dengan "the poor in spirit". The orthodox Jewish Brit Chadashe dengan "aniyey (miskin) ruach (roh). Ha-Berith dengan "aniyey (orang2 miskin yang) haruakh (didalam roh). Jadi pengertian "miskin dihadapan Allah" ini bukan semata miskin secara materi tetapi terlebih pada pengertian miskin (papa, sekeng dan rendah hati) didalam roh. Terlebih jelas lagi jika kita hubungkan pengertian tsb dengan definisi Kerajaan Allah dalam kitab Roma 14:17 yang berkata: "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus."
Apakah Yesus tidak peduli dengan kemiskinan materi, fisik, mental, sosial dan struktural sebagaimana yang dialami oleh orang2 yang datang padaNya? Tentu Yesus peduli. Ia melihat mereka dengan hati yang hancur dan menangis sebab mereka ini lelah dan terlantar hidupnya seperti domba tanpa gembala (Mat 7:15). Yesus tidak pernah menahan tangannya untuk menyembuhkan mereka yang sakit, mengusir setan bagi mereka yang kerasukan, memberi makan bagi mereka yang lapar, menguatkan mereka yang lemah dan memberi pengharapan pada mereka yang putus asa. Tetapi tugas Yesus yang utama datang ke dunia adalah untuk memberitakan dan menyatakan Kerajaan Allah bagi semua manusia. Ia menolong yang miskin tetapi jg mengingatkan bahwa hal Kerajaan Allah itu bukan sekedar persoalan (kecukupan) makan dan minum, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dikerjakan oleh roh. Karena itu carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33).
TAD-Ani
Fase Pertama, Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Tingkat spiritualitas yang paling dasar untuk bisa masuk dalam Kerjaan Allah adalah keberanian untuk miskin dihadapan Allah. Apa artinya? Alkitab Sheabear menterjemahkan "yang miskin" ini dengan pengertian "yang rendah hatinya". King James Version dengan "the poor in spirit". The orthodox Jewish Brit Chadashe dengan "aniyey (miskin) ruach (roh). Ha-Berith dengan "aniyey (orang2 miskin yang) haruakh (didalam roh). Jadi pengertian "miskin dihadapan Allah" ini bukan semata miskin secara materi tetapi terlebih pada pengertian miskin (papa, sekeng dan rendah hati) didalam roh. Terlebih jelas lagi jika kita hubungkan pengertian tsb dengan definisi Kerajaan Allah dalam kitab Roma 14:17 yang berkata: "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus."
Apakah Yesus tidak peduli dengan kemiskinan materi, fisik, mental, sosial dan struktural sebagaimana yang dialami oleh orang2 yang datang padaNya? Tentu Yesus peduli. Ia melihat mereka dengan hati yang hancur dan menangis sebab mereka ini lelah dan terlantar hidupnya seperti domba tanpa gembala (Mat 7:15). Yesus tidak pernah menahan tangannya untuk menyembuhkan mereka yang sakit, mengusir setan bagi mereka yang kerasukan, memberi makan bagi mereka yang lapar, menguatkan mereka yang lemah dan memberi pengharapan pada mereka yang putus asa. Tetapi tugas Yesus yang utama datang ke dunia adalah untuk memberitakan dan menyatakan Kerajaan Allah bagi semua manusia. Ia menolong yang miskin tetapi jg mengingatkan bahwa hal Kerajaan Allah itu bukan sekedar persoalan (kecukupan) makan dan minum, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dikerjakan oleh roh. Karena itu carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu (Mat 6:33).
TAD-Ani
Subscribe to:
Posts (Atom)