Bacaan : Matius 18:1-11
Teks bacaan kita mengajarkan bagaimana kita mempersiapkan diri dalam menyambut kuasa dan kepenuhan Kerajaan Allah, dengan:
Pertama, dengan bertobat dan hidup baru seperti anak kecil. Artinya penuh antusias dan kegembiraan dalam menyambut “sesuatu” yang penting dan sangat berharga dalam hidupnya.
Kedua, mendisiplin diri dengan dengan pengajaran yang sehat, yakni pengajaran yang bersumber dari Firman dan hanya Firman.
Suatu hari seorang rekan hamba Tuhan meminta ketemu untuk menanyakan bagaimana solusi terhadap 3 masalah besar (dan rumit) yang tengah dihadapinya. Dan setelah kita bertemu...memang ruwet bundet semua 3 kasus dijemaat yang sedang dihadapinya, dan semuanya berkaitan dengan keinginan untuk bercerai dan bagaimana bisa menikah lagi setelah bercerai. Boleh tidak? Bisakah diberkati di gereja? Bagaimana bunyi Tata Gereja?
Maka saya ajak dia untuk tidak "bertolak sedikit ketempat lebih dalam" (untuk mengambil jarak dari kasus kasus tsb) dan mulai mengajarkan jemaat 3 prinsip pastoral penggembalaan.
Prinsip Pertama, mengajar apa yang salah sebagai slaah dan benar aebagai benar. Bisanya orang datang kepada pendeta kalau masalah sudah rumit dan minta tolong...minta SOLUSI terhadap masalahnya..bukan untuk bertobat. Karena itu kita harus membawa orang berdosa kepada pertobatan. Sebab itulah solusinya.
Prinsip Kedua, menyadarkan bahwa dia (mereka) membutuhkan pertolongan dan pengampunan. Sebab hanya orang yang sadar bahwa dirinya sakit yang membutuhkan pertolongan dari tabib.
Prinsip Ketiga, hadapkan umat kepada KEBENARAN Firman dan bukan PEMBENARAN masalah, dengan mencari cari celah atau jalan keluar dari tafsir Firman atau Tata Gereja. Hadapkan pada Firman dan ajak dia untuk melihat apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Biarkan dia bertanya jawab dengan Firman Tuhan sendiri. Apakah yang dilakukannya itu benar menurut Firman Tuhan?
Itulah artinya hidup yang selaras dengan kebenaran Firman. Antara kebenaran Firman yang dipegang dan kebenaran hidup yang ditindakkan. Jika tangan dan kaki kita ternyata tidak sinkron dengan apa yang diajarkan oleh Firman maka "penggallah dan buanglah dia" bukan malah Firman nya yang dipenggal dan dibuang, untuk cari pembenaran dari Firman yang lainnya. Jika mata kita tidak sinkron dengan apa yang diajarkan oleh Firman, maka cukillah dia. Jangan Firmannya yang tidak dilihat atau di cungkil keluar dari Alkitab. Jika itu yang terjadi (Firmannya yang dipotong dan dicungkil) maka itu namanya PENYESATAN. Orang yang seperti itu (termasuk pendeta yang tak membawa umat pada kebenaran Firman dan lebih mencari pembenaran kasus) lebih baik diikatkan batu kilangan ke lehernya dan ditenggelamkan kedalam laut.
Jadi, mari kita belajar merendahkan diri dan mendisiplin rohani kita dengan ketat, sehingga apa yang kita ajarkan dan nasehatkan sama dan sebangun dengan KEBENARAN Firman. Sebab itulah cara yang paling tepat untuk menyambut kuasa dan pemenuhan Kerajaan Allah di bumi seperti di Sorga. Amin.
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C22
Bacaan : Matius 18:1-11
"Pak/bu..tolong dijelaskan tentang Kerajaan Allah dong...dan apa hubungannya dengan Yesus? Soalnya dalam renungan MK banyak disinggung soal spiritualitas Kerajaan Allah dan kepenuhannya dlm diri Yesus...trims pak/bu"
Saudaraku,
Kerajaan Allah itu bukan ide baru yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ajaran dan impian akan hadirnya Kerajaan Allah sudah ada di dalam Perjanjian Lama, yang kemudian diserukan kembali oleh Yohanes Pembaptis. Di dalam Perjanjian Lama, ada beberapa nas yang berbicara mengenai pengertian Kerajaan atau pemerintahan Allah (dalam bahasa Yunani: Basileia) yaitu: Mazmur 22:29, 103:19, 145:13; Daniel 4:3,25; Obaja 21; 1 Tawarikh 29:11. Di banyak bagian Alkitab PL, Allah juga disapa sebagai Raja, terutama di dalam kitab Mazmur dan Nabi Nabi.
Secara ringkas, ada 4 gambaran tentang Kerajaan Allah yang diwakili oleh 4 kelompok orang, yakni:
Pertama, kaum Zelot, yang membayangkan Kerajaan Allah sebagai pulihnya kejayaan kerajaan Daud secara politis lewat hadirnya Mesias yang menjadi penggerak dan pemersatu umat Yahudi yang terpecah pecah.
Kedua, kaum Farisi dan ahli Taurat, yang membayangkan Kerajaan Allah sebagai wilayah pemerintahan sendiri atau otonomi khusus dimana secara agama dan hukum agama bisa dipraktekkan seperti dijaman Perjanjian Lama.
Ketiga, kaum suci dari sekte Qumran, yang meneliti dari Taurat dan kitab para nabi apa yang dikatakan oleh TUHAN mengenai janji pemenuhan KerajaanNya. Dengan menguduskan diri dan menyingkir dari dunia yang jahat, mereka menantikan kedatangan Kerajaan Allah.
Keempat, inilah yang dibawa dan diajarkan oleh Yesus yang disebut Kristus itu. Kerajaan Allah yang berpusat pada pemenuhan Firman (didalam dan melalui Yesus Kristus sendiri) bukan pada terwujudnya area dan kekuasaan politik seperti jaman wangsa Daud atau otonomi khusus dimana pemerintahan dijalankan dengan hukum hukum agama Yahudi. Yesus adalah penggenapan dari imam, raja dan nabi sekaligus. Yesus sebagai nabi yang menyampaikan nubuat, sekaligus penggenapan dari isi nubuat itu sendiri. Yesus sebagai imam besar yang membawa korban penebusan dosa sekaligus anak domba yang dikorbankan. Yesus yang menyampaikan berita Kerajaan Allah sekaligus menjadi rajanya. Itulah berita Kerajaan Allah yang dijelaskan dalam kitab Injil dan keseluruhan kitab Perjanjian Baru.
Kitab Injil menjelaskan kepada kita bahwa Kerajaan Allah itu dimulai dari Firman yang menjadi daging dalam diri Yesus Kristus. Firman itulah yang hidup dan berkuasa untuk menebus manusia dari kuasa dosa dan yang akan mempersekutukan manusia dengan Firman sebagai kesatuan yang utuh dan penuh saat Kristus datang kedua kalinya. Saat inilah kita sebagai orang Kristen (pengikut Kristus) sedang menantikan dengan penuh kerinduan pemenuhan Kerajaan Allah di bumi seperti di Sorga.
Nah, sekarang pertanyaannya: "Bagaimana kita sebagai pribadi maupun Gereja mempersiapkan diri untuk menyambut kepenuhan Kerajaan Allah tersebut? Agar saat kedatangannya nanti jangan sampai didapati kita tidak siap seperti 5 gadis bodoh atau seperti hamba yang jahat dan malas?
(bersambung)
TAD-Ani
"Pak/bu..tolong dijelaskan tentang Kerajaan Allah dong...dan apa hubungannya dengan Yesus? Soalnya dalam renungan MK banyak disinggung soal spiritualitas Kerajaan Allah dan kepenuhannya dlm diri Yesus...trims pak/bu"
Saudaraku,
Kerajaan Allah itu bukan ide baru yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ajaran dan impian akan hadirnya Kerajaan Allah sudah ada di dalam Perjanjian Lama, yang kemudian diserukan kembali oleh Yohanes Pembaptis. Di dalam Perjanjian Lama, ada beberapa nas yang berbicara mengenai pengertian Kerajaan atau pemerintahan Allah (dalam bahasa Yunani: Basileia) yaitu: Mazmur 22:29, 103:19, 145:13; Daniel 4:3,25; Obaja 21; 1 Tawarikh 29:11. Di banyak bagian Alkitab PL, Allah juga disapa sebagai Raja, terutama di dalam kitab Mazmur dan Nabi Nabi.
Secara ringkas, ada 4 gambaran tentang Kerajaan Allah yang diwakili oleh 4 kelompok orang, yakni:
Pertama, kaum Zelot, yang membayangkan Kerajaan Allah sebagai pulihnya kejayaan kerajaan Daud secara politis lewat hadirnya Mesias yang menjadi penggerak dan pemersatu umat Yahudi yang terpecah pecah.
Kedua, kaum Farisi dan ahli Taurat, yang membayangkan Kerajaan Allah sebagai wilayah pemerintahan sendiri atau otonomi khusus dimana secara agama dan hukum agama bisa dipraktekkan seperti dijaman Perjanjian Lama.
Ketiga, kaum suci dari sekte Qumran, yang meneliti dari Taurat dan kitab para nabi apa yang dikatakan oleh TUHAN mengenai janji pemenuhan KerajaanNya. Dengan menguduskan diri dan menyingkir dari dunia yang jahat, mereka menantikan kedatangan Kerajaan Allah.
Keempat, inilah yang dibawa dan diajarkan oleh Yesus yang disebut Kristus itu. Kerajaan Allah yang berpusat pada pemenuhan Firman (didalam dan melalui Yesus Kristus sendiri) bukan pada terwujudnya area dan kekuasaan politik seperti jaman wangsa Daud atau otonomi khusus dimana pemerintahan dijalankan dengan hukum hukum agama Yahudi. Yesus adalah penggenapan dari imam, raja dan nabi sekaligus. Yesus sebagai nabi yang menyampaikan nubuat, sekaligus penggenapan dari isi nubuat itu sendiri. Yesus sebagai imam besar yang membawa korban penebusan dosa sekaligus anak domba yang dikorbankan. Yesus yang menyampaikan berita Kerajaan Allah sekaligus menjadi rajanya. Itulah berita Kerajaan Allah yang dijelaskan dalam kitab Injil dan keseluruhan kitab Perjanjian Baru.
Kitab Injil menjelaskan kepada kita bahwa Kerajaan Allah itu dimulai dari Firman yang menjadi daging dalam diri Yesus Kristus. Firman itulah yang hidup dan berkuasa untuk menebus manusia dari kuasa dosa dan yang akan mempersekutukan manusia dengan Firman sebagai kesatuan yang utuh dan penuh saat Kristus datang kedua kalinya. Saat inilah kita sebagai orang Kristen (pengikut Kristus) sedang menantikan dengan penuh kerinduan pemenuhan Kerajaan Allah di bumi seperti di Sorga.
Nah, sekarang pertanyaannya: "Bagaimana kita sebagai pribadi maupun Gereja mempersiapkan diri untuk menyambut kepenuhan Kerajaan Allah tersebut? Agar saat kedatangannya nanti jangan sampai didapati kita tidak siap seperti 5 gadis bodoh atau seperti hamba yang jahat dan malas?
(bersambung)
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C21
Bacaan: Matius 8:18-22
Tantangan yang kedua adalah Tantangan PRIORITAS ini ditunjukkan dengan hadirnya seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati."
Wuaaah.. Sungguh berat tantangan ini. Sebab Yesus menguji prioritas dan keutamaan orang yang mau mengikutinya dikontraskan dengan kasih dan tanggungjawab pada keluarga. Apakah Yesus tidak memperdulikan keluarga dan budaya hormat pada orang tua? Tentulah tidak. Hal ini terbukti sebelum Yesus berkata demikian kepada muridNya itu Yesus telah menyembuhkan mertua Petrus yang sakit. Jadi jelaslah bahwa Yesus sangat memperdulikan keluarga dan mengajar para muridNya untuk mengasihi dan menghormati orang tuanya. Lalu mengapa Yesus berkata: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati."
Apa yang dikatakan oleh Yesus adalah ungkapan umum yang ingin mengatakan bahwa kematian adalah hal alamiah yang akan terjadi pada setiap orang. Hari ini engkau mengubur orang mati..besok engkau akan mati dan dikuburkan oleh orang lain. Demikian seterusnya.. Ini terjadi dari tahun ketahun..abab ke abad. Karena itu harus ada satu intervensi ilahi terhadap kematian tsb, yakni dengan memberikan jalan menuju KEHIDUPAN. Alkitab bersaksi bahwa Yesus adalah JALAN, KEBENARAN dan HIDUP (Yoh 14:6). Melalui Yesus lah orang akan menemukan jalan menuju kepada kehidupan. Jika engkau dan saya tahu akan hal itu...niscaya kita akan bersegera (meninggalkan kematian) untuk mengikuti Yesus yang hidup dan menghidupkan.
Menguburkan orang tua yang mati tentulah penting..tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting dari kematian, yakni KEHIDUPAN KEKAL. Dan kehidupan kekal hanya didapati jika kita percaya dan mengikut Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Dengan mengikut Yesus sebagai sumber kehidupan dan mengajak orang
Tantangan yang kedua adalah Tantangan PRIORITAS ini ditunjukkan dengan hadirnya seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, yang berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati."
Wuaaah.. Sungguh berat tantangan ini. Sebab Yesus menguji prioritas dan keutamaan orang yang mau mengikutinya dikontraskan dengan kasih dan tanggungjawab pada keluarga. Apakah Yesus tidak memperdulikan keluarga dan budaya hormat pada orang tua? Tentulah tidak. Hal ini terbukti sebelum Yesus berkata demikian kepada muridNya itu Yesus telah menyembuhkan mertua Petrus yang sakit. Jadi jelaslah bahwa Yesus sangat memperdulikan keluarga dan mengajar para muridNya untuk mengasihi dan menghormati orang tuanya. Lalu mengapa Yesus berkata: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati."
Apa yang dikatakan oleh Yesus adalah ungkapan umum yang ingin mengatakan bahwa kematian adalah hal alamiah yang akan terjadi pada setiap orang. Hari ini engkau mengubur orang mati..besok engkau akan mati dan dikuburkan oleh orang lain. Demikian seterusnya.. Ini terjadi dari tahun ketahun..abab ke abad. Karena itu harus ada satu intervensi ilahi terhadap kematian tsb, yakni dengan memberikan jalan menuju KEHIDUPAN. Alkitab bersaksi bahwa Yesus adalah JALAN, KEBENARAN dan HIDUP (Yoh 14:6). Melalui Yesus lah orang akan menemukan jalan menuju kepada kehidupan. Jika engkau dan saya tahu akan hal itu...niscaya kita akan bersegera (meninggalkan kematian) untuk mengikuti Yesus yang hidup dan menghidupkan.
Menguburkan orang tua yang mati tentulah penting..tetapi ada sesuatu yang jauh lebih penting dari kematian, yakni KEHIDUPAN KEKAL. Dan kehidupan kekal hanya didapati jika kita percaya dan mengikut Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup. Dengan mengikut Yesus sebagai sumber kehidupan dan mengajak orang
Renungan Mezbah Keluarga #17C20
Bacaan: Matius 8:18-22
Minggu lalu kita telaht membahas fase pertumbuhan spiritualitas Kerajaan Allah, sebagaimana yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dihadapan ribuan orang yang mengikutiNya. Hal itu penting untuk diletakkan diawal agar orang orang yang hendak mengikutiNya harus paham betul bahwa hal Kerajaan Allah itu berbeda dengan kerajaan dunia, bahkan berbanding terbalik dengan apa yang banyak dibayangkan dan dikejar oleh bangsa bangsa.
Nah, renungan kita hari ini akan mempertajam lagi hal spiritualitas pengikut Kristus. Atas dasar landasan dan motivasi apa kita mengikutiNya? Itulah sebabnya dalam teks bacaan kita, dikisahkan Yesus sengaja mengambil "jarak" terhadap orang banyak yang mengikutiNya. Pada ayat 18 dituliskan: "Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang". Yesus sengaja pergi menjauh menuju kesisi yang lain..atau ketempat yang berbeda (the other side) dari kumpulan (dan keinginan) orang banyak itu. Untuk apa? Untuk memberikan ruang bagi mereka berpikir dan menguji atas motivasi dan kepentingan apa mereka mengikuti Yesus.
Yang menarik...ada datang seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Wow...! Ternyata ada seorang ahli Taurat yang masih mencari dan bahkan ikut menyeberang untuk menemukan Yesus...dan berkata aku akan mengikut Engkau..KEMANA SAJA Engkau pergi.. Sungguh tekad dan bukti usaha nyata yang luar biasa. Tetapi Yesus mengujinya lagi dengan pernyataan yang merupakan the other side dari harapan ahli Taurat itu, yakni : "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
Artinya...apakah dengan tidak mendapat apa apa, bahkan tidak memiliki apa apa engkau akan tetap mengikuti Yesus..kemanapun Dia pergi?? Ini adalah tantangan yang pertama harus dijawab oleh orang yang bersemangat ingin menjadi pengikut Kristus.
Minggu lalu kita telaht membahas fase pertumbuhan spiritualitas Kerajaan Allah, sebagaimana yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dihadapan ribuan orang yang mengikutiNya. Hal itu penting untuk diletakkan diawal agar orang orang yang hendak mengikutiNya harus paham betul bahwa hal Kerajaan Allah itu berbeda dengan kerajaan dunia, bahkan berbanding terbalik dengan apa yang banyak dibayangkan dan dikejar oleh bangsa bangsa.
Nah, renungan kita hari ini akan mempertajam lagi hal spiritualitas pengikut Kristus. Atas dasar landasan dan motivasi apa kita mengikutiNya? Itulah sebabnya dalam teks bacaan kita, dikisahkan Yesus sengaja mengambil "jarak" terhadap orang banyak yang mengikutiNya. Pada ayat 18 dituliskan: "Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang". Yesus sengaja pergi menjauh menuju kesisi yang lain..atau ketempat yang berbeda (the other side) dari kumpulan (dan keinginan) orang banyak itu. Untuk apa? Untuk memberikan ruang bagi mereka berpikir dan menguji atas motivasi dan kepentingan apa mereka mengikuti Yesus.
Yang menarik...ada datang seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Wow...! Ternyata ada seorang ahli Taurat yang masih mencari dan bahkan ikut menyeberang untuk menemukan Yesus...dan berkata aku akan mengikut Engkau..KEMANA SAJA Engkau pergi.. Sungguh tekad dan bukti usaha nyata yang luar biasa. Tetapi Yesus mengujinya lagi dengan pernyataan yang merupakan the other side dari harapan ahli Taurat itu, yakni : "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
Artinya...apakah dengan tidak mendapat apa apa, bahkan tidak memiliki apa apa engkau akan tetap mengikuti Yesus..kemanapun Dia pergi?? Ini adalah tantangan yang pertama harus dijawab oleh orang yang bersemangat ingin menjadi pengikut Kristus.
Renungan Mezbah Keluarga #17C18
Bacaan: Matius 5:1-12
Fase kedelapan, Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Jika kita sudah melewati tahap kesatu sampai ketujuh, maka tidak akan ada penderitaan, ancaman, penganiayaan atau pembunuhan yang bisa menyurutkan langkah kita untuk mengabarkan Injil Kerajaan Allah dan kebenaranNya.
Rasul Paulus menyebut orang yg sudah sampai ke fase ini sebagai orang lebih dari pemenang. Kepada jemaat di Roma yg banyak menghadapi tekanan, fitnah dan aniaya, Paulus berkata: "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:37-39).
Dan saat rasul Paulus sendiri ditangkap dan dipenjarakan di Roma ia tetap konsisten dengan iman percayanya. Ia menuliskan surat kepada jemaat di Filipi: "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Fil 1:20-21) Sebab yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." (Fil 3:10-11)
Wow...inilah puncak spiritualitas para pengikut Kristus. Bukan untuk kesombongan, tetapi untuk menyatakan betapa dahsyatnya kuasa yg ternyata bekerja didalam kita, yang dikerjakan oleh Roh Kudus (I Tes 1:6)
TAD-Ani
Fase kedelapan, Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Jika kita sudah melewati tahap kesatu sampai ketujuh, maka tidak akan ada penderitaan, ancaman, penganiayaan atau pembunuhan yang bisa menyurutkan langkah kita untuk mengabarkan Injil Kerajaan Allah dan kebenaranNya.
Rasul Paulus menyebut orang yg sudah sampai ke fase ini sebagai orang lebih dari pemenang. Kepada jemaat di Roma yg banyak menghadapi tekanan, fitnah dan aniaya, Paulus berkata: "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:37-39).
Dan saat rasul Paulus sendiri ditangkap dan dipenjarakan di Roma ia tetap konsisten dengan iman percayanya. Ia menuliskan surat kepada jemaat di Filipi: "Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan." (Fil 1:20-21) Sebab yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." (Fil 3:10-11)
Wow...inilah puncak spiritualitas para pengikut Kristus. Bukan untuk kesombongan, tetapi untuk menyatakan betapa dahsyatnya kuasa yg ternyata bekerja didalam kita, yang dikerjakan oleh Roh Kudus (I Tes 1:6)
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C17
Bacaan: Matius 5:1-12
Fase ketujuh, Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Mother Theresa berkata: "we do not need guns and bombs to bring peace, we need love and compassion".. Tetapi mungkin ada akan berkata: "wuah itu mah susah... Bagaimanapun kita tetap perlu senjata dan kekuatan agar bisa tercipta keamanan dan perdamaian. Mosok polisi dan tentara dipersenjatai dengan bunga dan bukan senjata api? Yang benar aja.... Kebatilan kalau tidak dilawan (dikerasi) ya nanti malah sewenang wenang." Pemikiran yg seperti ini memang dipandang lebih "logis" dan "solutif"...ketimbang ajaran Yesus untuk melawan kejahatan dengan kasih dan kelemah lembutan.
Jika demikian, apakah Firman Tuhan keliru atau mother Theresa hanya berteori dengan permainan kata semata? Tentu tidak. Sebab disini kita berbicara mengenai etika dan spiritualititas Kerajaan Allah yang diperuntukkan bagi anak anak Allah. Yesus berkata: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah"..atau dengan kata lain berlaku pula sebaliknya; "jika engkau menyebut dirimu anak anak Allah maka jadilah pembawa damai."
Saudara,
Ketidak-mampuan kita membawa damai itu bukan karena tantangan (kejahatan) di luar sana teralu besar, melainkan karena kita telah melupakan bahwa kita itu sesungguhnya punya kuasa sebagai anak anak Allah yang saling memperhatikan. Mother Theresa berkata: "if we have no peace it's because we have forgotten that we belong each other."
Itulah spirituaitas yang selama ini kita abaikan...spiritualitas yang sesungguhnya sangat simple yakni: bersedia MENJADI SESAMA bagi orang lain. Karena itu ada 3 hal dalam hidup ini yang sangat penting yang harus dilakukan oleh anak anak Allah dalam membawa perdamaian, Pertama; jadilah orang yang baik. Kedua; jadilah orang yang baik dan Ketiga; jadilah orang yang baik.
dan serahkan kepada Allah untuk mengerjakan selebihnya..
TAD-Ani
Fase ketujuh, Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Mother Theresa berkata: "we do not need guns and bombs to bring peace, we need love and compassion".. Tetapi mungkin ada akan berkata: "wuah itu mah susah... Bagaimanapun kita tetap perlu senjata dan kekuatan agar bisa tercipta keamanan dan perdamaian. Mosok polisi dan tentara dipersenjatai dengan bunga dan bukan senjata api? Yang benar aja.... Kebatilan kalau tidak dilawan (dikerasi) ya nanti malah sewenang wenang." Pemikiran yg seperti ini memang dipandang lebih "logis" dan "solutif"...ketimbang ajaran Yesus untuk melawan kejahatan dengan kasih dan kelemah lembutan.
Jika demikian, apakah Firman Tuhan keliru atau mother Theresa hanya berteori dengan permainan kata semata? Tentu tidak. Sebab disini kita berbicara mengenai etika dan spiritualititas Kerajaan Allah yang diperuntukkan bagi anak anak Allah. Yesus berkata: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah"..atau dengan kata lain berlaku pula sebaliknya; "jika engkau menyebut dirimu anak anak Allah maka jadilah pembawa damai."
Saudara,
Ketidak-mampuan kita membawa damai itu bukan karena tantangan (kejahatan) di luar sana teralu besar, melainkan karena kita telah melupakan bahwa kita itu sesungguhnya punya kuasa sebagai anak anak Allah yang saling memperhatikan. Mother Theresa berkata: "if we have no peace it's because we have forgotten that we belong each other."
Itulah spirituaitas yang selama ini kita abaikan...spiritualitas yang sesungguhnya sangat simple yakni: bersedia MENJADI SESAMA bagi orang lain. Karena itu ada 3 hal dalam hidup ini yang sangat penting yang harus dilakukan oleh anak anak Allah dalam membawa perdamaian, Pertama; jadilah orang yang baik. Kedua; jadilah orang yang baik dan Ketiga; jadilah orang yang baik.
dan serahkan kepada Allah untuk mengerjakan selebihnya..
TAD-Ani
Renungan Mezbah Keluarga #17C16
Bacaan: Matius 5:1-12
"Pak orang yang suci hatinya itu seperti apa? Sedalam dalamnya laut dapat diduga, tetapi dalamnya hati siapa yang tahu? Saya pernah alamin sediri pak... hmm..orangnya santun, ngomongnya banyak bertaburan ayat ayat suci..pokoknya tampilannya wuiih..saleh banget. Tapi duit saya dikemplang dibawa kabuur... Trus gimana kita bisa tahu orang itu suci hatinya?
Saudara,
Itu adalah respon seorang teman terhadap MK kita kemarin. Apa yang dikatakannya itu ada (banyak) benarnya...sebab kita memang tidak bisa tahu persis ukuran hati suci itu seperti apa? Karena itu orang bisa (dengan mudah) tertipu dengan tampilan pakaian agamis tertentu yang seolah menggambarkan tingkat kesalehan padahal hati dan prilakunya jauh panggang dari api.
Pemazmur berkata: "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:3-5)
Jadi menurut Alkitab suci hati itu TIDAK diukur dari tampilan pakaiannya, atau fasihnya berbicara atas nama agama, melainkan orang yg teruji tangannya tak bercela, yang murni dan teruji niatnya....sinkron antara apa yang dikatakan dengan yang ditindakkan, tidak mencla mencle, ngeles apalagi menipu demi mendapatkan keuntungan dan dukungan.. dan ini yang paing penting: tidak memanipuasi agama untuk kepentingan diri sendiri...dengan berani bersumpah palsu...
Firman Tuhan berkata: "Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis. Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik. (Titus 1:15-16)
TAD-Ani
"Pak orang yang suci hatinya itu seperti apa? Sedalam dalamnya laut dapat diduga, tetapi dalamnya hati siapa yang tahu? Saya pernah alamin sediri pak... hmm..orangnya santun, ngomongnya banyak bertaburan ayat ayat suci..pokoknya tampilannya wuiih..saleh banget. Tapi duit saya dikemplang dibawa kabuur... Trus gimana kita bisa tahu orang itu suci hatinya?
Saudara,
Itu adalah respon seorang teman terhadap MK kita kemarin. Apa yang dikatakannya itu ada (banyak) benarnya...sebab kita memang tidak bisa tahu persis ukuran hati suci itu seperti apa? Karena itu orang bisa (dengan mudah) tertipu dengan tampilan pakaian agamis tertentu yang seolah menggambarkan tingkat kesalehan padahal hati dan prilakunya jauh panggang dari api.
Pemazmur berkata: "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"
"Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia." (Mazmur 24:3-5)
Jadi menurut Alkitab suci hati itu TIDAK diukur dari tampilan pakaiannya, atau fasihnya berbicara atas nama agama, melainkan orang yg teruji tangannya tak bercela, yang murni dan teruji niatnya....sinkron antara apa yang dikatakan dengan yang ditindakkan, tidak mencla mencle, ngeles apalagi menipu demi mendapatkan keuntungan dan dukungan.. dan ini yang paing penting: tidak memanipuasi agama untuk kepentingan diri sendiri...dengan berani bersumpah palsu...
Firman Tuhan berkata: "Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis. Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik. (Titus 1:15-16)
TAD-Ani
Subscribe to:
Posts (Atom)